MENGEMBANGKAN PROGRAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

BERBASIS IPTEK UNTUK MEMBANGUN

KARAKTER BANGSA

Chuzaimah Dahlan Diem

Abstrak:

Pengembangan karakter bangsa merupakan proses sehingga harus dilakukan sejak usia dini. Oleh karena itu, diperlukan suatu konsepsi yang jelas dan bijaksana yang tepat dengan melibatkan berbagai pihak dan implementasinya. Implementasi multi arah diasumsikan akan mempercepat proses tersebut dalam rangka menyelaraskan kebutuhan kehidupan di era globalisasi yang erat kaitannya dengan perkembangan IPTEK.

Kata kunci: PAUD, karakter bangsa, IPTEK.

  1. Konsep

Iptek: ADALAH SINGKATAN DARI Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi. Nilai dari IPTEK terutama di bidang informasi dan komunikasi telah menciptakan kesenjangan antara negara maju dan tertinggal, seperti Indonesia sehingga pengaruhnya langsung menyentuh kehidupan manusia.

 

Usia dini: yaitu usia dibawah lima tahun. Dalam usia ini sangat menentukan perkembangan manusia selanjutnya sebab pada usia tersebut dasar-dasar kepribadian anak terbentuk. Anak-anak pada usia ini memiliki intelegensi laten yang luar biasa.

 

Karakter bangsa: yaitu jati diri yang berupa ketauladanan bangsa Indonesia yang tercermin dari kepemilikan IPTEK yang tercermin sebagai muatan hati nurani yang dihayati dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi komitmen yang kuat demi terwujutnya cita-cita bangsa Indonesia

 

  1. Mengapa Program Paud Harus Berbasis IPTEK Dala Kaitannya Dengan Pembangunan Karakter Bangsa?

Hal ini dikarenakan kedudukan kemampuan teknologi manusia Indonesia saat ini kurang menjanjikan, antara lain:

  1. Masih adanya buta huruf di beberapa bagian kepulauan.
  2. Akibat membanjirnya informasi sebagian bangsa kita terposisikan sebagai keranjang sampah sehingga kemampuan untuk memilah dan mengolah data, serta membuat refleksi secara sistematis dan baik terhadap informasi yang diperoleh semakin menurun.
  3. Rendahnya kemampuan membaca bahasa Inggris siswa SMA, SMP dan SD.
  4. Khusus  untuk kesiapan mengakses ICT global, Indonesia berada dibawah Thailand dan Philipina. Mungkin salah satu penyebabnya berkaitan dengan kemampuan daya beli masyarakatkita.

Kendala-kendala yang dihadapi dalam:

  1. Pendidikan dikalangan anak-anak usia dini yang masih sangat tidak merata, sehingga tidak ada kesempatan bagi sebagian anak Indonesia untuk mengenal apalagi memahami pentingnya IPTEK;
  2. Sistem pendidikan nasional dan sarana pendidikan secara umum belum mendukung kearah penumbuhkembangan kreatifitas serta penguasaan IPTEK sejak usia dini;
  3. Kemampuan ekonomi yang rendah menyebabkan sumber daya ekonomi diprioritaskan pada hal yang menyangkut kebutuhan dasar;
  4. Pengembangan ITC oleh swasta lebih mementingkan unsur bisnis dan mengabaikan unsur pendidikan;
  5. Belum dimanfaatkan kemajuan sistem informasi secara maksimal di lembaga pemerintah maupun swasta sehingga mengakibatkan terlambatnya komunikasi antar lembaga;
  6. Kebijakan pengembangan dan pemanfaatan IPTEK biasanya diputuskan berdasarkan pertimbangan politik, bukan kebutuhan teknis, serta masih bersifat sentralistik.

 

  1. Beberapa Pendapat/Teori
    1. Coumantarakis dalam Peters (2011: 6): Pendidikan global didefinisikan sebagai pengajaran dan pengajaran dengan perspektif global sebagai berikut:
      1. Mengenali saling keterkaitan dan ketergantungan antara isu-isu, daerah, masyarakat, sistem dan waktu.  
      2. Meningkatkan pemahaman isu-isu global seperti pembangunan, pengelolaan lingkungan, perdamaian, dan hak asasi manusia kedalam bidang-bidang subjek tradisional.
      3. Bekerja sebagai bagian kewarganegaraan global yang aktif, bertanggung jawab, dan membangun dunia yang lebih damai dan adil.

 

Berdasarkan definisi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa perspektif global atau kesadaran global harus menjadi komponen dari setiap topik yang diajarkan dalam pembelajaran. Artinya, isu-isu berdimensi global seharusnya diintegrasikan dengan materi pelajaran dengan cara yang masuk akal untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang realitas global.

 

  1. Roblyer dan Doening (2010: 14-16): Tidak ada keraguaan bahwa tehnologi dapat digunakan untuk tujuan yang berbeda dan dalam berbagai cara di dalam kelas. Para praktisi pendidikan telah mengemukakan sejumlah alasan mengapa kita harus mengintegrasikan tehnologi kedalam pengajaran. Diantara alasan tersebut ialah untuk:  (1) memotivasi siswa, (2) meningkatkan instruksi pembelajaran, (3). membuat siswa dan guru bekerja lebih produktif, (4). membantu siswa dalam belajar dan memperytajam keterampilan siswa.

 

Perkembangan karakter bangsa merupakan proses; oleh karena itu, diperlukan suatu konsepsi yang jelas dan kebijakan yang tepat serta melibatkan berbagai pihak dalam implementasinya. Implementasi multi arah semacam ini diasumsikan akan mempercepat pembangunan karakter bangsa dalam rangka menyelaraskan kebutuhan kehidupan di era globalisasi yang erat kaitannya dengan perkembangan IPTEK dewasa ini.

 

Jadi kedua teori diatas menekankan tehnologi dibidang informasi dan komunikasi mengalami kemajuan yang pesat dan dimasukkan kedalam pembelajaran, agar siswa dan guru tidak ketinggalan informasi dunia serta juga membiasakan rasa ingin tahu dengan menggunakan IPTEK, sehingga tercermin sebagai suatu kebiasaan yang mendasar dan mengkarakter dalam diri anak.

 

IV. STRATEGI

-.Pendidikan informal dalam keluarga.

Melalui orang tua, menyediakan sarana dan prasarana di rumah.

-. Pendidikan formaldi lingkungan sekolah.

Anak-anak pada tingkat pra-sekolah dan sekolah dasar memiliki potensi yang luar biasa untuk dapat diperkenalkan dengan berbagai pengetahuan dan ketrampilan.

-. Pendidikan non formal di lingkungan masyarakat.

   Tersedianya berbagai fasilitas seperti: perpustakaan umum, warnet, dan toko buku yang lengkap di lingkungan masyarakat akan memacu minat anak terhadap IPTEK.

 

  1. UPAYA.

Pengimplementasian strategi-strategi diatas dilakukan dengan berbagai upaya melalui penggunaan beberapa metode seperti: edukasi, sosialisasi, fasilitasi dan regulasi.

 

VI. PENUTUP.

KESIMPULAN.

  • Ø Kesiapan generasi penerus mengikuti perkembangan IPTEK akan membuat bangsa menjadi maju dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia sehingga diharapkan akan berdampak pada mantapnya stabilitas nasional.
  • Ø Penumbuhkembangan minat terhadap IPTEK sejak dini dapat dilakukan secara terpadu apabila disertai dengan  komitmen pemerintah serta unsur terkait lainnya untuk mendidik anak bangsa ini secara bersungguh-sungguh.
  • Ø Kerja sama serta hubungan sinergis antara unsur keluarga, sekolah (pemerintah), dan masyarakat, serta serta dengan konsep dan sasaran yang jelas, penumbuhkembangan minat terhadap IPTEK sejak dini pad anak-anak Indonesia dapat membuat bangsa Indonesia menjadi pelaku dan pencipta IPTEK sehingga akan menjadi bangfsa yang berkarakter kuat dan mampu bersaing dengan bangsa lain.

 

 

 

 

I. PENDAHUUAN

Jstilah pemerolehan dipakai untuk padanan istilah Inggris aquisition, yakni, proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu dia belajar bahasa ibunya. Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa pertama terjadi bila anak yang sejak semula tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi dari pada bentuk bahasanya. Pemerolehan bahasa anak-anak dapat dikatakan mempunyai ciri kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit.

Pemerolehan bahasa pertama sangat erat hubungannya dengan perkembangan perkembangan kognitif yakni pertama, jika anak dapat menghasilkan ucapan-ucapan yang mendasar pada tata bahasa yang rapi, tidaklah secara otomatis mengimplikasikan bahwa anak telah menguasai bahasa yang bersangkutan dengan baik. Kedua, pembicara harus memperoleh katagori-katagori kognitif yang mendasari berbagai makna ekspresif bahasa-bahasa alamiah, seperti kata, ruang, modalitas, kualitas, dan sebagainya. Persyaratan-persyaratan kognitif terhadap pengusaan bahasa lebih banyak dituntut pada pemerolehan bahasa kedua dari pada dalam dalam pemerolehan bahasa pertama.

Menurut Kiparsky (Tarigan, 1986: 243) pemerolehan bahasa merupakan suatu proses  yang dipergunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis yang makin bertambah rumit, ataupun teori-teori yang masih terpendam atau tersembunyi yang mungkin sekali terjadi, dengan ucapan-ucapan orang tuanya sampai dia memilih, berdasarkan suatu ukuran atau dari bahasa tersebut. Penjelasan Kiparsky tersebut dapat dilihat dari pengamatan sehari-hari terhadap perkembangan seorang anak (dalam hal ini anak yang normal) memproses kecakapan berbahasanya. Biasanya yang dilakukan oleh anak-anak tersebut di antaranya bermula dari mendengar dan mengamati bunyi-bunyi bahasa di sekelilingnya tanpa disuruh atau disengaja. Kemudian lama kelamaan apa-apa yang didengar dan apa-apa yang diamatinya itu berkembang terus menerus tahap demi tahap sesuai dengan perkembangan kemampuan intelegensi dan latar belakang sosial-budaya yang membentuknya. Jadi dapat disimpulkan bahwa pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang dalam hal ini anak-anak belajar dan kemudian mendapatkan kelancaran dalam berbahasa. Kelancaran berbahasa yang dimaksud adalah bahasa ibunya atau bahasa pertama sekali yang didengarnya

II. PEMBAHASAN

  1. 1.    Proses pemerolehan bahasa pertama

Proses anak  mulai mengenal dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan peme-rolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa pertama terjadi bila anak yang sejak semula tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi dari pada bentuk bahasanya. Pemerolehan bahasa anak-anak dapat dikatakan mempunyai ciri kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit.

Ada dua pengertian mengenai pemerolehan bahasa. Pertama, pemerolehan mempunyai permulaan yang mendadak tiba-tiba. Kedua, pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik.

Pemerolehan bahasa pertama sangat erat hubungannya dengan perkembangan kognitif yakni pertama, jika anak dapat menghasilkan ucapan-ucapan yang berdasar pada tata bahasa yang teratur rapi, tidaklah secara otomatis mengimplikasikan bahwa anak telah menguasai menguasai bahasa anak yang bersangkutan dengan baik. Kedua, pembicara harus memperoleh ‘kategori-kategori kognitif ‘yang mendasari berbagai makna ekspresif bahasa-bahasa ilmiah, seperti kata, ruang, modalitas. Kasualitas, dan sebagainya. Persyaratan-persyaratan kognitif terhadap penguasaan bahasa lebih banyak dituntut pada pemerolehan bahasa kedua dari pada dalam pemerolehan bahasa pertama.

Bahasa bersifat universal. Pemerolehan bahasa pertama erat kaitannya dengan permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik. Pemerolehan bahasa pertama erat sekali kaitannya dengan perkembangan sosial anak dan karenanya juga erat hubungannya denganpembentukan identitas sosial. Mempelajari bahasa pertama merupakan salah satu perkembangan menyeluruh anak menjadi anggota penuh suatu masyarakat. Sejak dari bayi telah berinteraksi di dalam lingkungan sosialnya. Seorang ibu seringkali memberi kesempatan kepada bayi untuk ikut dalam komunikasi sosial dengannya. Kala itulah bayi pertama kali mengenal sosialisasi, bahwa dunia adalah tempat orang saling berbagi rasa

Melalui bahasa khusus bahasa pertama, seorang anak belajar untuk menjadi anggota masyarakat. Bahasa pertama menjadi salah satu sarana untuk mengungkapkan perasaan, keinginan, dan pendirian, dalam bentuk-bentuk yang tidak dapat diterima anggota masyarakatnya, ia tidak selalu boleh mengungkapkan perasaannya secara gamblang. Apabila seorang anak menggunakan ujaran-ujaran yang bentuknya benar atau gramatikal, belum berarti bahwa ia telah menguasai bahasa pertama. Agar seorang anak dapat dianggap telah menguasai bahasa pertama ada beberapa unsur yang penting yang berkaitan dengan perkembangan jiowa dan kognitif anak itu. Perkembangan nosi-nosi (notion) atau pemahaman seperti waktu, ruang, modalitas, sebab akibat, dan deiktis merupakan bagian yang penting dalam perkembangan kognitif penguasaan bahasa pertama seorang anak.

2. Periode dan perkembangan pemerolehan bahasa pertama

Perkembangan pemerolehan bahasa anak dapat dibagi atas tiga bagian penting yaitu: perkembangan prasekolah, perkembangan ujaran kombinatori, dan perkembangan masa sekolah. Perkembangan pemerolehan bahasa pertama anak pada masa prasekolah dapat dibagi lagi atas perkembangan pralinguistik, tahap satu kata dan ujaran kombinasi permulaan. Perkembangan pralinguistik ditandai oleh adanya pertukaran giliran antara orang tua (khususnya ibu) dengan anak. Pada masa perkembangan pralinguistik anak mengembangkan konsep dirinya. Ia berusaha membedakan dirinya dengan subjek, dirinya dengan orang lain serta hubungan dengan objek dan tjndakan pada tahap satu kata, anak terus menerus berupaya mengumpulkan nama benda-benda dan orang yang ia jumpai.

Kata-kata yang pertama diperolehnya tahap ini lazimnya adalah kata yang menyatakan perbuatan, kata sosialisasi, kata yang menyatakan tempat, dan kata yang menyatakan pemerian. Dilihat dari unsur dasar pembentukannya kombinasi yang dibuat anak pada periode ini mengekspresikan dua unsur deretan dasar pelaku (agen) + tindakan (aksi) + ob jek. Semua kombinasi dua unsur terjadi, misalnya Agen + Aksi + Objek, Agen + Objek. Pada masa tahap 2 ada tiga sarana ekspresif yang dipakai oleh anak-anak, yang dapat membuat kalimat-kalimat mereka menjadi lebih panjang yaitu kemunculan morfem-morfim gramatikal secara inklusif dalam ujaran anak, pengertian atau penyambungan bersama-sama hubungan dua hal tersebut, dan perluasan istilah dalam suatu hubungan. Perkembangan ujaran kombinatori anak-anak dapat dibagi dalam empat bagian yaitu per-kembangan-negatif/penyangkalan, perkembangan interogatif/pertanyaan, perkembangan penggabungan kalimat, dan perkembangan sistem bunyi.

3. Tahap-tahap pemerolehan bahasa pertama

Perlu untuk diketahui adalah seorang anak tidak dengan tiba-tiba memiliki tata bahasa bahasa pertama dalam otaknya dan lengkap dengan semua kaidahnya. Bahasa pertama diperolehnya dalam beberapa tahap dan setiap tahap berikutnya lebih mendekati tata bahasa dari bahasa orang dewasa. Menurut para ahli, tahap-tahap ini sedikit banyaknya ada ciri kesemestaan dalam berbagai bahasa di dunia.

Pengetahuan mengenai pemerolehan bahasa dan tahapannya yang paling pertama didapat dari buku-buku harian yang disimpan oleh orang tua yang juga peneliti ilmu psikolinguistik. Dalam studi-studi yang lebih mutakhir, pengetahuan ini diperoleh melalui rekaman-rekaman dalam pita rekaman, rekaman video, dan eksperimen-eksperimen yang direncanakan. Ada sementara ahli bahasa yang membagi tahap pemerolehan bahasa ke dalam tahap pralinguistik dan linguistik. Akan tetapi, pendirian ini disanggah oleh banyak orang yang berkata bahwa tahap pralinguistik itu tidak dapat dianggap bahasa yang permulaan karena bunyi-bunyi seperti tangisan dan rengekan dikendalikan oleh rangsangan (stimulus) semata-mata, yaitu respons otomatis anak pada rangsangan lapar, sakit, keinginan untuk digendong, dan perasaan senang. Tahap linguistik  terdiri atas beberapa tahap, yaitu (1) tahap pengocehan (babbling); (2) tahap satu kata (holofrastis);  (3) tahap dua kata; (4) tahap menyerupai telegram (telegraphic speech).

  1. Vokalisasi bunyi

Pada umur sekitar 6 minggu, bayi mulai mengeluarkan bunyi-bunyi dalam bentuk teriakan, rengekan, dengkur. Bunyi yang dikeluarkan oleh bayi mirip dengan bunyi konsonsonan atau vokal. Akan tetapi, bunyi-bunyi ini belum dapat dipastikan bentuknyakarena memang terdengar dengan jelas. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah bunyi-bunyi yang dihasilkan tadi merupakan bahasa? Fromkin dan Rodman (1993:395) menyebutkan bahwa bunyi tersebut tidak dapat dianggap sebagai bahasa. Sebagian ahli menyebutkan bahwa bunyi yang dihasilkan oleh bayi ini adalah bunyi-bunyi prabahasa/dekur/vokalisasi bahasa/tahap cooing.

Setelah tahap vokalisasi, bayi mulai mengoceh (babling). Celotehan merupakan ujaran yang memiliki suku kata tunggal seperti mu dan da .Adapun umur si bayi mengoceh tak dapat ditentukan dengan pasti. Mar’at (2005:43) menyebutkan bahwa ocehan ini terjadi pada usia antara 5 dan 6 bulan. Dardjowidjojo (2005: 244) menyebutkan bahwa celoteh terjadi pada umur 8 sampai dengan 10 bulan. Perbedaan pendapat seperti ini bisa saja. Yang perlu diingat bahwa kemampuan anak berceloteh tergantung pada perkembangan neurologi seorang anak.

Pada tahap celoteh ini, anak sudah menghasilkan celoteh vokal dan konsonan yang berbeda seperti frikatif dan nasal. Mereka juga mulai mencampur konsonan dengan vokal. Konsonan yang keluar pertama adalah konsonan bilabial hambat dan bilabial nasal. Vokalnya adalah /a/ dengan demikian, strukturnya adalah K-V. Ciri lain dari celotehan adalah pada usia sekitar 8 bulan, struktur silabel K-V ini kemudian diulang sehingga muncullah struktur seperti: Orang tua mengaitkan kata papa dengan ayah dan mama dengan ibu.meskipun yang ada di benak tidaklah diketahui. Tidak mustahil celotehan itu hanyalah sekedar artikulori belaka (Darmowidjojo: 2005:245).

Begitu anak melewati periode mengoceh, mereka mulai menguasai segmen-segmen fonetik yang merupakan balok bangunan yang dipergunakan untuk mengucapkan perkataan. Mereka belajar  bagaimana mengucapkan sequence of segmen, yaitu silabe-silabe dan kata-kata. Cara anak-anak mencoba segmen fonetik ini adalah dengan menggunakan teori hypothesis-testing (Clark & Clark dalam Ma’at 2005:43). Menurut teori ini anak-anak menguji coba berbagai hipoptesis tentang bagaimana mencoba memproduksi bunyi yang benar. Pada tahap-tahap permulaan pemerolehan bahasa, biasanya anak-anak memproduksi perkataan orang dewasa yang disederhanakan sebagai berikut:

b. Tahap satu kata atau Holofrastis

Tahap ini berlangsung ketika anak berusia antara 12 dan 18 bulan. Ujaran-ujaran yang mengandung kata-kata tunggal diucapkan anak untuk mengacu pada benda-benda yang dijumpai  sehari-hari. Pada tahap ini pula seorang anak mulai menggunakan serangkaian bunyi berulang-ulang untuk makna yang sama. Pada usia ini pula, sang anak sudah mengerti bahwa bunyi ujar berkaitan dengan makna dan mulai mengucapkan kata-kata yang pertama. Itulah sebabnya tahap ini disebut tahap satu kata satu frase atau kalimat, yang berarti bahwa satu kata yang diucapkan anak itu merupakan satu konsep yang lengkap. Misalnya “mam” (Saya minta makan); “pa” (Saya mau papa ada di sini). “Ma” (Saya mau mama ada di sini).

Mula-mula, kata-kata itu diucapkan anak itu kalau rangsangan ada di situ, tetapi sesudah lebih dari satu tahun, “pa” berarti juga “Di mana papa?” dan “Ma” dapat juga berarti “Gambar seorang wanita di majalah itu adalah mama”

Menurut pendapat beberapa peneliti bahasa anak, kata-kata dalam tahap ini mempunyai tiga fungsi, yaitu kata-kata itu dihubungkan dengan perilaku anak itu sendiri atau suatu keinginan untuk suatu perilaku, untuk mengungkapkan suatu perasaan, untuk memberi nama kepada suatu benda. Dalam bentuknya, kata-kata yang diucapkan itu terdiri dari konsonan-konsonan yang mudah dilafalkan seperti m,p,s,k dan vokal-vokal seperti a,i,u.e.

c. Tahap dua kata, Satu frase

Tahap ini berlangsung ketika anak berusia 18-20 bulan. Uiaran-ujaran yang terdiri atas dua kata mulai muncul seperti mama mam dan papa ikut. Kalau pada tahap holofratis ujaran yang diucapkan si anak belum tentu dapat ditentukan makna, pada tahap dua kata ini, ujaran si anak harus ditafsirkan sesuai dengan konteksnya. Pada tahap ini pula anak sudah mulai berpikir secara “subjek + predikat” meskipun hubungan-hubungan seperti infleksi, kata ganti orang dan jamak belum dapat digunakan. Dalam pikiran anak itu, subjek + predikat” dapat terdiri atas kata benda + kata benda, seperti  “Ani mainan”  yang berarti  “Ani  sedang bermain dengan mainan” atau kata sifat + kata benda, seperti “kotor patu” yang artinya “Sepatu ini kotor” dan sebagainya.

d. Ujaran Telegrafis

Pada usia 2 dan 3 tahun, anak mulai menghasilkan ujaran kata ganda (multiple-word utterences) atau disebut juga ujaran telegrafis. Anak juga sudah mampu membentuk kalimat dan mengurutkan bentuk-bentuk itu dengan benar. Kosakata anak berkembang dengan pesat mencapai beratus-ratus kata dan cara pengucapan kata-kata semakin mirip dengan bahasa orang dewasa.

Pada usia dini dan seterusnya, seorang anak belajar bahasa pertamanya secara bertahap dengan caranya sendiri. Ada teori yang mengatakan bahwa seorang anak dari usia dini belajar bahasa dendan menirukan. Namun, Fromkin dan Rodman (1993:403) menyebutkan hasil tiruan yang dilakukan oleh si anak tidak akan sama seperti yang diinginkan oleh orang dewasa. Jika orang dewasa meminta sang anak untuk menyebutkan “He’s going out”, si anak akan melafalkan dengan “he go out”. Ada lagi teori yang mengatakan bahwa seorang anak belajar dengan cara penguatan (reinforcement), artinya kalau anak belajar uiaran-ujaran yang benar, ia mendapat penguatan dalam bentuk pujian, misalnya bagus, pandai, dan sebagainya.Akan tetapi bila ujaran-ujarannya salah,ia mendapatkan “penguatan negatif”, misalnya lagi, salah, tidak baik. Pandangan ini berasumsi bahwa anak itu harus trus menerus diperbaiki bahasanya kalau salah dan dipuji jika ujarannya benar. Teori ini tampaknya belum dapat diterima seratus persen oleh para ahli psikolinguistik. Yang benar ialah seorang anak membentuk aturan-aturan dan menyusun tata bahasa sendiri. Tidak semua anak menunjukkan kemajuan-kemajuan yang sama meskipun semuanya menunjukkan kemajuan-kemajuan yang reguler.   

4.Teori-teori tentang pemerolehan bahasa pertama

a. Teori Behaviorirme

Teori behaviorisme menyoroti aspek perilaku kebahasaan yang dapat diamati langsung dan hubungan antara rangsangan (stimulus) dan reaksi (response ). Perilaku bahasa yang efektif adalah membuat reaksi yang tepat terhadap rangsangan. Reaksi ini akan menjadi suatu kebiasaan jika reaksi tersebut dibenarkan. Dengan demikian, anak belajar bahasa pertamanya.

B.F. Skinner adalah tokoh aliran behaviorisme. Menurut Skinner, perilaku kebahasaan sama dengan perilaku yang lain, dikontrol oleh konsekuensinya. Apabila suatu usaha menyenang-kan, perilaku itu terus akan dikerjakan. Sebaliknya, apabila tidak menguntungkan, perilaku itu akan ditinggalkan. Singkatnya, apabila ada reinforcement   yang cocok, perilaku akan berubah dan inilah yang disebut belajar.

Menurut Brown (Pateda, 1990: 43) pendekatan behavioristik atau kaum impiris yang dipelopori oleh Skinner, anak yang baru lahir ke dunia ini dianggap kosong dari bahasa atau kosong dari struktur linguistik yang dibawanya. Anak tersebut ibarat tabularasa atau kertas putih yang belum ditulisi, lingkungannyalah yang akan memberi corak dan warna pada kertas itu. Namun, pemerolehan seperti ini memerlukan penguatan (reinforcment)

b. Teori Nativisme

Chomsky merupakan penganut nativisme. Menurutnya, bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia, binatang tidak mungkin dapat menguasai bahasa manusia. Pendapat Chomsky didasarkan pada beberapa asumsi. Pertama, perilaku berbahasa adalah sesuatu yang diturunkan (genetik), setiap bahasa memiliki perkembangan yang sama (merupakan sesuatu yang universal), dan lingkungan yang memiliki peran kecil di dalam proses pematangan bahasa. Kedua, bahasa dapat dapat dikuasai dalam waktu yang relatif singkat. Ketiga, lingkungan bahasa anak tidak dapat menyediakan data yang cukup bagi penguasaan tata bahasa yang rumit dari orandg dewasa.Menurut aliran ini, bahasa adalah sesuatu yang kompleks dan rumit sehingga mustahil dapat dikuasai dalam waktu yang singkat melaui “peniruan”. Nativisme juga percaya bahwa setiap manusia yang lahir sudah dibekali dengan suatu alat untuk memperoleh bahasa (Language Acquisition Device, disingkat LAD). Neil (Tarigan, 1998:239) mempunyai 4 ciri utama, yaitu (1) kemampuan untuk membedakan bunyi-bunyi yang lain; (2) kemampuan mengorganisasikan peristiwa-peristiwa linguistik ke dalam berbagai kelas; (3) pengetahuan mengenal jenis sistem linguistik tertentu sajalah yang mungkin mengungkapkan hal itu, sedangkan yang lain-lainnya tidak; (4) kemampuan memanfaatkan secara konstan evaluasi untuk membangun sistem yang mungkin paling sederhana dari data yang ditemukan. Mengenai bahasa apa yang akan diperoleh anak bergantung pada bahasa yang digunakan oleh masyarakat sekitar. Sebagai contoh, seorang anak yang dibesarkan di lingkungan Amerika sudah pasti bahasa Inggris menjadi bahasa pertamanya.

(Bolinger, 1975: 267) berpendapat bahwa anak-anak yang lahir ke dunia ini telah membawa kapasitas atau potensi bahasa yang akan berkembang nantinya sesuai dengan proses kematangan jntelektual anak itu. Potensi bahasa ini akan berkembang bagi anak-anak apabila saatnya sudah tiba.

Semua anak yang normal dapat belajar bahasa apa saja yang digunakan oleh masyarakat sekitar. Apabila diasingkan sejak lahir, anak ini tidak memperoleh bahasa. Dengan kata lain, LAD tidak mendapat “makanan” sebagaimana biasanya sehingga alat ini tidak bisa mendapat bahasa pertama sebagaimana lazimnya seperti anak yang dipelihara oleh srigala (Baradja, 1990:33). Tanpa LAD, tidak mungkin seorang anak dapat menguasai   bahasa dalam waktu singkat dan bisa menguasai sistem bahasa yang rumit. LAD juga memungkinkan seorang anak dapat membedakan bunyi bahasa dan bukan bunyi bahasa.

c. Teori Kognitivisme

Menurut teori ini, bahasa bukanlah, suatu ciri alamiah yang terpisah melainkan salah satu diantara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa disertukturi oleh nalar. Perkembangan bahasa harus berlandaskan pada perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi. Jadi, urutan-urutan perkembangan kognitif mementukan perkembangan bahasa (Chaer, 2003: 223). Hal ini tentu saja berbeda dengan pendapat Chomsky yang menyatakan bahwa mekanisme umum dari perkembangan kognitif tidak dapat menjelaskan struktur bahasa yang kompleks, abstrak, dan khas. Begitu juga dengan slingkungan berbahasa. Bahasa harus diperoleh secara alamiah.

Menurut teori kognitivisme, yang paling utama harus dicapai adalah perkembangan kognitif, barulah pengetahuan dapat keluar dalam bentuk keterampilan berbahasa. Dari lahir sampai 18 bulan, bahasa dianggap belum ada. Anak hanya mengenal benda yang dilihat secara langsung. Pada akhir usia satu tahun, anak sudah dapat mengerti bahwa benda memiliki sifat permanen sehingga anak mulai menggunakan simbol untuk mempresentasikan benda yang tidak hadir dihadapannya. Simbol ini kemudian berkembang menjadi kata-kata awal yang diucapkan anak.

Pendekatan kognivistik yang dipelopori oleh Louis Bloom (Pateda,1998) memandang bahwa pemerolehan bahasa anak-anak harus dilihat dari fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Itulah sebabnya penganut aliran ini membantah bahwa kalimat dua kata (pivot grammar) yang dikemukakan kaum mentalis, mungkin saja mengandung tafsiran yang lebih dari satu, karena menurut pandangan kognitivistik anak-anak bukan belajar struktur luar (surface structure ) tetapi mempelajari struktur dalam (deep structure)  dari bahasa itu.

D. Teori Interaksionisme

Teori interaksionisme beranggapan bahwa pemerolehan bahasa merupakan hasil interaksi antara  kemampuan mental pembelajaran dan lingkungan bahasa. Pemerolehan bahasa itu

berhubungan dengan adanya interaksi antara masukan “input” dan kemampuan internal yang dimiliki pembelajar. Setiap anak sudah memiliki LAD sejak lahir. Namun, tanpa ada masukan yang sesuai tidak mungkin anak dapat menguasai bahasa tertentu secara otomatis.

Mengenai teori-teori pemerolehan bahasa disesuaikan dengan struktur bahasa, yaitu fonologi, sintaksis dan semantik yang diungkapkan oleh Pateda (1988). Menurut Pateda ada beberapa teori struktural sejagat, (Jacobson), teori semantik sejagat (Shvachkin), teori behavioris (Mowrer), teori bahavioris sejagat (Olmsted), teori generatif struktural (Moskowizt), teori fonologi alami (Stampe), teori prosodik akustik (Weterson), teori penuh sistem logogen (Smith), teori keutamaan pemerolehan leksikon (Ferguson), teori kontras dan proses (Ingram), teori pendekatan pemecahan masalah (Kiparsky dan Menn), dan teori sintetik Gestalt (Peters). Teori-teori tentang pemerolehan sintaksis menggunakan teori formal.

(Brown, dkk) yang berfokus pada pengarektisasian bentuk atau struktur ucapan anak-anak. Teori fungsional yang mengemukakan bahwa terdapat tiga perkembangan bahasa pada anak yang dituturkannya dengan konstruksi negasi, konstruksi pertanyaan, dan konstruksi verba “to be” dalam bahasa Inggris, sedangkan teori tentang semantik menggunakan teori fungsional yang mengaitkan pemaknaan ucapan anak dengan situasi waktu itu. Teori sistem semantik yang menyangkut pemerolehan pada ciri-ciri individual anak secara semesta, dan teori konseptual yang menyatakan bahwa ucapan-ucapan yang dihasilkan anak-anak sebagian didesak oleh berbagai hal yang mereka pikirkan mengenai hal itu.

Penganalisaan ketiga komponen tersebut (fonologi, sintaksis, dan semantik) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari apa yang biasa dinamakan pemerolehan bahasa.

Pemerolehan dalam bidang Fonologi

Pada waktu dilahirkan, anak hanya memiliki sekitar 20% dari otak dewasanya. Ini berbeda dengan binatang yang sudah memiliki sekitar 70%. Karena  perbedaan inilah maka binatang sudah dapat melakukan banyak hal segera sesudah lahir, sedangkan manusia hanya bisa menangis dan menggerak-gerakkan badannya. Proposi yang ditakdirkan kecil pada manusia ini mungkin memang “dirancang” agar pertumbuhan otaknya proposional pula dengan pertumbuhan badannya.

Pada umur sekitar 6 minggu, anak mulai mengeluarkan bunyi-bunyi yang mirip dengan bunyi konsonan atau vokal.Bunyi-bunyi ini belum dapat dipastikan bentuknya karena memang terdengar dengan jelas. Proses bunyi-bunyi seperti ini dinamakan cooing, yang telah diterjemahkan menjadi dekutan (Dardjowidjojo 2000: 63). Anak mendekutkan bermacam-macam bunyi yang belum jelas identitasnya.

Pada sekitar umur 6 bulan, anak mulai mencampur konsonan dengan vokal sehingga membentuk apa yang dalam bahasa Inggris dinamakan babbling, yang telah diterjemahkan menjadi celotehan (Darmowidjojo: 2000: 63). Celotehan dimulai dengan konsonan dan diikuti diikuti oleh sebuah vokal. Konsonan yang keluar pertama adalah konsonan bilabial hambat dan bilabial nasal. Vokalnya adalah /a/. dengan demikian, strukturnya adalah CV. Ciri lain dari celotehan adalah bahwa CV ini kemudian diulang sehingga muncullah struktur seperti berikut:   C1 V1 C! V! C1 V!……papapa  mamama  bababa…..

Orang tua kemudian mengaitkan “kata” papa dengan ayah mama dengan ibu meskipun apa yang ada dibenak anak tidaklah kita ketahui; tidak mustahil celotehan itu hanyalah sekedar latihan artikulori belaka. Konsonan dan vokalnya secara gradual berubah sehingga muncullah kata-kata seperti dadi, dida, tita, dita,mama, mami, dan sebagainya.

Pemerolehan dalam bidang Sintaksis

Dalam bidang sintaksis, anak memulai berbahasa dengan mengucapkan satu kata (atau bagian kata). Kata ini, bagi anak sebenarnya adalah kalimat penuh, tetapi karena dia belum dapat mengatakan lebih dari satu kata, dia hanya mengambil satu kata dari seluruh kalimat

itu. Yang menjadi pertanyaan adalah kata mana yang dia pilih? Seandainya anak itu bernama Dodi dan yang ingin ia sampaikan adalah Dodi mau bubuk, dia akan memilih di (untuk Dodi), mau (untuk mau), ataukah buk (untuk bubuk)? Kita pasti akan menerka bahwa dia akan memilih buk. Tapi mengapa demikian?

Dalam pola pikir yang masih sederhana pun tampaknya anak sudah mempunyai pengetahuan tentang informasi lama versus informasi baru. Kalimat diucapkan untuk memberikan informasi baru kepada pendengarnya. Dari tiga kata pada kalimat Dodi mau bubuk, yang baru adalah kata bubuk.  Karena itulah anak memilih buk, dan bukan di, atau mau. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa dalam ujaran yang dinamakan Ujaran Satu Kata, USK anak tidak sembarangan saja memilih kata yang memberikan informasi baru.

Pemerolehan dalam bidang Semantik

Dari segi sintaksisnya, USK (Ujaran Satu Kata) sangatlah sederhana karena memang hanya terdiri dari satu kata saja, bahkan untuk bahasa seperti bahasa Indonesia hanya sebagian saja dari kata itu. Namun dari segi semantiknya, USK adalah kompleks karena satu kata ini  bisa memiliki lebih dari satu makna. Anak yang mengatakan /b/ untuk mobil bisa bermaksud mengatakan:

  1. Ma, itu mobil.
  2. Ma, ayo kita ke mobil.
  3. Aku mau ke mobil.
  4.  Aku minta (mainan) mobil.
  5. Aku nggak mau mobil.
  6. Papa ada di mobil, dan sebagainya

Kata mempunyai jalur hierarkhi semantik. Perkutut Bangkok adalah satu jenis perkutut, dan perkutut adalah satu jenis perkutut, dan perkutut adalah satu dari sekian banyak macam burung. Sementara itu, burung adalah salah satu binatang, dan binatang adalah salah satu wujud dari makhluk. Dalam hal pemerolehan kata, anak tidak akan memperoleh kata yang hirarkhinya terlalu tinggi atau terlalu rendah. Anak akan mengambil apa yang dinamakan basic level category , yakni, suatu kategori dasar yang tidak terlalu tetapi juga tidak terlalu rendah. Dalam contoh binatang di atas, anak tidak akan mengambil binatang atau makhluk; dia juga tidak akan mengambil perkutut. Dia akan mengambil kata yang dasar, yakni, burung. Tentu saja inputnya adalah dari bahasa sang ibu tetapi bahasa sang ibu juga mengikuti prinsip ini.

 

5. Srategi pemerolehan bahasa pertama

Srategi pertama dalam pemerolehan bahasa dengan berpedoman pada: tirulah apa yang dikatakan orang lain. Tiruan akan digunakan anak terus, meskipun ia sudah dapat sempurna melafalkan bunyi. Ada berbagai ragam peniruan atau imitasi, yaitu imitasi spontan atau spontaneous imitation, imitasi pemerolehan atau elicited imitation, imitasi segera atau immediate imitation, imitasi terlambat atau delayed imitation dan imitasi dengan perluasan atau imitation with expansion,  imitasi dengan pengurangan atau reduced imitation.

Strategi kedua dalam pemerolehan bahasa adalah strategi produktivitas. Produktivitas berarti keefektifan dan keefisienan dalam pemerolehan bahasa yang berpegang pada pedoman, buatlah sebanyak mungkin dengan bekal yang telah anda miliki atau anda peroleh. Produktivitas adalah ciri utama bahasa. Dengan satu kata seorang anak dapat  “bercerita atau mengatakan “ hal sebanyak mungkin. Kata papa misalnya dapat mengandung berbagai makna bergantung pada situasi dan intonasi.

Srategi ketiga berkaitan dengan hubungan  umpan balik antara produksi ujaran dan responsi. Dengan strategi ini anak-anak dihadapkan pada pedoman: hasilkanlah ujaran dan lihatlah bagaimana orang lain memberi responsi. Strategi produktif bersifat “sosial” dalam pengertian bahwa strategi tersebut dapat meningkatkan interaksi dengan orang lain dan sementara itu bersifat “kognitif” juga. Hal itu dapat memberikan umpan balik kepada pelajar mengenai ekspresinya sendiri terhadap makna dan juga memberinya sampel yang lebih banyak, yaitu sampel bahasa untuk digarap atau dikerjakan.

Strategi keempat adalah prinsip operasi. Dalam strategi ini anak dikenalkan dengan pedoman: gunakan beberapa “prinsip operasi umum untuk memikirkan serta menetapkan bahasa. Selain perintah terhadap diri sendiri  oleh anak,prinsip operasi ini juga menyarankan larangan yang dinyatakan dalam avoidance terms, misalnya: hindari kekecualian, hindari pengaturan kembali.

III. METODOLOGI PENELITIAN  

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis, dengan artian setiap data yang diperoleh dideskripsikan dan dianalisis apa adanya. Penggunaan metode ini menggunakan teknik-teknik sebagai berikut: (1) mengamati sampel dalam bahasa, (2) mencatat ucapan-ucapan sampel baik secara langsung maupun tidak langsung yaitu informasi-informasi yang diperoleh dari orang tuanya, (3) menganalisis data-data tersebut sesuai dengan teori-teori yang telah ditetapkan.

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui proses pembelajaran bahasa pertama bagi anak-anak, sedangkan secara khusus bertujuan untuk mengetahui dn mengekspresikan beberapa hal yang berhubungan dengan tahap-tahap pemerolehan bahasa anak, sebagai berikut: (a) Mendeskripsikan perolehan-perolehan yang dilakukan oleh anak-anak, dalam tahap pralinguistik; (b) Mendeskripsikan perolehan-perolehan didapat oleh anak-anak dalam tahap linguistik, dan (c) Mendeskrpsikan perolehan-perolehan yang dilaksanakan oleh anak-anak dalam tahap kompetensi lengkap.

Dalam penelitian yang sederhana ini, peneliti mencoba mencoba membahas beberapa hal yang menyangkut pemerolehan bahasa pada anak-anak. Sehubungan dengan  bahasa pada anak-anak tersebut, ada beberapa hal yang perlu dijelaskan sekaligus menjadi fokus dalam penelitian ini. Pertama, penelitian ini menjelaskan pemerolehan yang berhubungan dengan “tahap yang dilalui oleh anak-anak dalam proses pemerolehan bahasanya”. Tahap-tahap pemerolehan bahasa tersebut, difokuskan pada tiga hal, yaitu; tahap pra linguistik, tahap linguistik, dan tahap kompetensi lengkap. Kedua, ketika melalui ketiga proses tahapan pemerolehan bahasa tersebut, umumnya anak-anak berumur mulai 0 tahun sampai pada umur 5, bahkan beberapa teori mengungkapkan sampai umur 8 tahun. Ketiga, walaupun penelitian sederhana ini dilakukan secara singkat, namun pelaksanaan pengambilan data disesuaikan dengan umur anak selaras dengan tahap perkembangan yang dilaluinya. Jadi, dalam penelitian ini ada beberapa anak, yang dijadikan sampel, yang akan diamati perkembangan bahasanya.

Penelitian ini menggunakan populasi anak-anak usia 0-7 tahun,  yang dengan sampel 12 orang  yang terdiri dari 6 orang perempuan dan 6 orang laki-laki dengan ketentuan 2 orang untuk masing-masing tahapan pemerolehan bahasa tersebut. Alasan memilih dua orang untuk masing-msing tahapan adalah supaya keduanya saling melengkapi datanya. Untuk tahap pralinguistik pertama: 2 orang yaitu Pipit (5 bulan)dan Levi  (6 bulan), tahap pralinguistik kedua; 2 orang yaitu Yuni (8 bulan) dan Bobi (11 bulan). Tahap linguistik pertama; 2 orang yaitu Puri (13 bulan) dan Dedi (17 bulan), tahap linguistik kedua: 2 orang yaitu Nana (20 bulan) dan Yunus (24 bulan), tahap linguistik ketiga: Dewi (30 bulan) Bambang (35  bulan), dan tahap keempat; 2 orang yaitu Prita (4 tahun) Frid (5 tahun), serta untuk tahap kompetensi lengkap 2 orang yaitu Wika (6,5 tahun) dan Hanafi (7 tahun).

Lokasi penelitian ini adalah Kompleks Taman Asri Ciledug Tangerang. Artinya semua anak-anak yang dijadikan sampel penelitian ini bertempat tinggal di Kompleks Taman Asri tersebut. Alasan pemilihan tempat tersebut semata-mata karena peneliti bertempat tinggal di kompleks tersebut .Dengan demikian, setiap hari peneliti dapat mengamati anak-anak tersebut. Hal ini mengingat waktu yang dijadwalkan untuk penelitian ini relatif singkat. Karena itulah, penelitian singkat ini lebih layak disebut sebagai sebuah pengamatan awal.

Seperti yang diungkapkan para ahli bahwa pada tahap-tahap pralinguistik pertama, bahasa anak-anak mempunyai cIri tersendiri. Gejala-gejala yang muncul ditandai dengan menangis, menjerit, mendekut, dan tertawa. Anak-anak seolah-olah dengan kegiatan-kegiatan di atas menghasilkan jenis-jenis yang beragam. Bunyi-bunyi yang dihasilkan anak-anak itu tidaklah merupakan ucapan-ucapan yang berdasarkan organisasi fonemik dan fonetik, atau bukanlah merupakan bunyi-bunyi ujaran. Anak-anak menghasilkan suaranya sebagai alat bermain, seperti mereka menggunakan anggota tubuhnya yang lain. Namun, bunyi-bunyi yang mereka hasilkan itu tidak dapat digolongkan sebagai perfomasi linguistik. Biasanya anak-anak melewati tahap pralinguistik ini pada usia 0 sampai 6 bulan. Suara, jeritannya, dan tertawanya membuat lucu suasananya atau bahkan “bikin gregetan”. Di manapun orang tua berada rasanya pengin cepet-cepet pulang untuk mendengar celotehan dan tertawanya. Bahkan juga terjadi ketika pasangan itu mau menikah salah satu dari orang tua mereka tidak setuju. Tetapi begitu melihat cucunya yang mulai lucu, lunturlah segala rasa itu dan yang ada hanya rasa sayang,  Mereka mengajak ngomong dengan senyuman dan “kudangan” (bahasa Jawa) lalu anak itu hanya menjawab dengan mulut yang lucu serta bunyi yang dikeluarkan tanpa tahu artinya juga ketawa yang membuat orang jadi gregetan.Hal ini terjadi pada Pipit dan Levi. Saya juga masih teringat waktu cucu saya seumur anak tersebut. Karena tinggal serumah jadi lupa kalau itu cucu. Rasanya seperti punya anak lagi. Dan masih ada tambahan pengalaman lagi yaitu seorang cucu dari keponakan namanya Dandi (laki-laki), dapat mengangkat  badannya sendiri bila minta gendong. Saya sendiri juga heran kenapa anak umur 5 bulan kuat banget ngangkat badannya. Badannya kekar dan tulang-tulangnya memang kuat. Anak-anak yang dipakai dalam penelitian ini tidak ada yang sekokoh dia. Mungkin karena makanan atau keturunan. Memang bapaknya anak itu pendek dan kekar badannya. Tetapi adik-adiknya tidak. Sekarang sudah sekolah tetapi tulangnya tidak sekekar waktu masih kecil. Jadi memang anak waktu kecil akan berbeda jika nanti sudah besar karena beberapa faktor.

Tahap pralinguistik kedua disebut juga tahap “omong kosong” (Tarigan, 1998; 264), atau tahap “pengocehan” (Subiyakto, 1998: 70). Dalam tahap ini anak-anak akan mengucapkan sejumlah ujaran tidak bermakna. Kalaupun bermakna, itu hanya merupakan sesuatu kebetulan saja. Pengocehan ini seringkali dihasilkan dengan intonasi kalimat kadang-kadang dengan tekanan  menurun seolah-olah merupakan sebuah pertanyaan.  Namun, ocehan- ocehan itu belum juga dapat digolongkan sebagai perfomasi linguistik, karena hanya baru bersifat omong kosong dan tidak termasuk pada masukan akustik.

Namun, tahap ini penting artinya, karena dalam tahap ini anak-anak akan belajar menggunakan bunyi bunyi ujar yang benar dan dapat diterima oleh lingkungannya, dan membuang bunyi ujar yang salah dan tidak dapat diterima oleh lingkungannya (Subiyakto, 1998: 71). Tahap ini biasanya dialami oleh anak-anak yang berusia 6 sampai dengan 12 bulan.

Omong kosong yang dilakukan oleh dua orang sampel yaitu Yuni dan Bobi  adalah ba, ba, ba, ta,ta, ta, ma ma,ma, yang berarti dia menginginkan sesuatu; dan pa,pa, pa yang tidak selalu berarti papa tetapi bisa saja berarti minta makan atau minum. Ocehan-ocehan ini ada kalanya dengan memasukkan jari kedalam mulutnya sehingga kita mengira dia haus atau lapar. Ada yang memang haus atau lapar, tetapi ada juga yang tidak. Ternyata dia minta keluar karena udara di dalam panas. Biasanya anak lebih mudah mengucapkan ma,ma, ma, dari pada pa,pa,pa,.Hal ini terjadi pada Bobi. Dia selalu menyebut pa,pa,pa dan ta, ta, ta sedangkan ma,ma,ma, tidak pernah disebut. Secara kebetulan ibunya bekerja dari pagi sampai malam dan bapaknya jam 4 sudah ada di rumah. Namun ini bukan berarti hanya lebih dekat dengan bapaknya karena ketika bapaknya sampai di rumah lansung tidur dulu dan anaknya diajak main oleh pengasuhnya. Ketika ibunya pulang walaupun sudah malam tentu langsung anak dulu yang dipegang (sesudah cuci tangan) dan bila sudah tidur ya malamnya bila bangun minta minum air susu ibunya. Jadi botol hanya digunakan bila ibunya tidak ada. Sewaktu ibunya di rumah kata yang diucapkan ta,ta,ta, dan pa,pa,pa. Ibunya juga tidak sakit hati karena kata-kata itu hanya omong kosong belaka tidak ada artinya.  Yuni tidak demikian halnya. Dia mengucapkan celotehan lengkap ta,ta,ta, ma,ma,ma, pa,pa,pa. Perbedaan ini sepertinya belum bisa menentukan bahwa Yuni lebih pandai dari pada Bobi. Fisiknya Yuni lebih lemah. Bila diajak pergi pulangnnya langsung rewel. Jadi pada pokoknya dalam tahap ini mereka baru mampu mengoceh yang dapat juga berupa bunyi-bunyi tidak tentu untuk mengungkapkan atau menyampaikan sesuatu kepada orang sekelilingnya.

Pada tahap linguistik pertama, bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap pada sampel sampel di atas sudah dapat dimasukkan ke dalam perfomansi linguistik. Anak-anak sudah mulai mengucapkan perkataan  yang pertama, meskipun belum lengkap seperti, “atit” yang berarti “sakit”, agi yang berarti “lagi”, itut yang berati “ikut”,atau atoh yang berarti “jatuh”. Tahap linguistik ini dapat dibagi menjadi 4 tahap, yaitu tahap linguistik pertama, tahap linguistik kedua,tahap linguistik ketiga, dan tahap linguistik keempat atau yang terakhir.

Menurut para ahli, tahap linguistik pertama ini disebut juga tahap kalimat satu kata atau holoprase, yang berarti bahwa satu kata sama dengan satu frase atau kalimat, contoh lain kata “pis” dapat berarti “anak-anak ingin pipis”, buk berarti anak ingin bubuk au bisa berari “mau” atau tidak mau. Ini harus bisa membaca gelagat si anak. Kalau sudah bisa menggelengkan atau menganggukkan kepala itu mudah. Tetapi kalau belum, itu yang membingungkan. Karena kalau tidak sesuai dengan apa yang dimaksud anak akan mrnangis. Fenomina lain adalah banyak sekali terdapat kedwimaknaan ujaran anak-anak pada tahap ini. Oleh karena itu, sebelum menafsirkan ujaran anak-anak terlebih dahulu lingkungannya harus mengamati apa yang sedang dilakukan oleh anak-anak itu. Misalnya ketika Puri dan Dedi mengucapkan tu  bukan berarti “itu”, tetapi ia sebetulnya menginginkan “sesuatu yang terletak di atas meja”, misalnya. Begitu juga dengan ni  bukan berarti “ini” tetapi ia menginginkan “seseorang mendekat padanya”.

Beberapa ahli berpendapat bahwa kata-kata yang diucapkan oleh anak-anak pada tahap ini mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut: (a) dihubungkan dengan perilaku anak-anak itu sendiri atau suatu keinginan untuk perilaku, (b) untuk mengungkapkan suatu perasaan, (c) untuk memberi nama suatu benda (Subiyakto, 1988: 72). Tahap ini dialami oleh Puri dan Dedi sebagai sampel penelitian.

Tahapan yang dilewati oleh Nana dan Yunus adalah tahap linguistik kedua disebut juga tahap ucapan dua kali atau satu frase. Kalimat dua kata ini muncul ketika mereka mulai mengerti suatu ‘tema’ dan mencoba mengekspresikannya dengan makna berbeda-beda, misalnya makna kepunyaan (milik) Nana mengucapkan mobil Nana  yang berarti “mobil ini milik Nana”, kemudian makna yang menyatakan sifat misalnya baju merah dan sebagainya. Anak-anak seusia ini pada umumnya belum dapat mengatakan “ r” dengan jelas, misalnya lambut (rambut), melah (merah), bubul (bubur), bulung (burung)dan juga “ s” misalnya: tutah (susah), tudah (sudah), tayang (sayang), pedeng (pedes), tambeng (sambel). Biasanya anak-anak melalui tahap ini pada usia 18 bulan atau 2 tahun.Pada umur inilah anak-anak baru mulai mengalami tahap-tahap seperti ini.

Yang perlu dicatat pada tahap ini adalah anak-anak belum atau tidak menggunakan verba-verba yang mereka pakai, misalnya jarang memakai preposisi “Aku pergi bude” “ Aku main mol” “ Aku kamar mandi” yang berarti  “aku pergi ke tempat bude”, “aku main ke mol” , Aku ke kamar mandi”, dan kata tugas lainnya Nana mandi kolam renang , Yunus tidur kamar   yang berarti  “Nana mandi di kolam renang” dan “ Yunus tidur di kamar”

Para pakar menyebut tahap linguistik ketiga sebagai tahap menyerupai telegraf (Subiyakto, 1988: 72) atau disebut juga tahap pengembangan pengembangan tata bahasa (Tarigan, 1988: 266). Selama tahap ketiga ini sampel Dewi dan Bambang  mengembangkan sejumlah sarana ketatabahasaan. Anak-anak sudah mulai menambah kata-kata pada kalimatnya,tetapi ucapan-ucapan mereka semakin bertambah rumit. Beberapa kata tugas sudah mulai dimunculkan dan hubungan sintaktik sudah mulai tampak,meskipun yang mereka bicarakan sering yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Contohnya antara lain Babang manjat jatuh, yang dimaksud  “Bambang tadi memanjat lalu jatuh”. Ewi ikut nggak? Yang dimaksud “ Dewi boleh ikut nggak? Situasinya mamanya mau pergi maka dia mau ikut, tetapi malah bertanya.

Tahap linguistik keempat terdapat pada sampel Prita dan Frid. Frid adalah cucu saya sendiri. Sekarang dia sudah naik ke T.K besar. Sebelum dia masuk ke T.K besar nanti dia sudah bisa membaca dan menulis serta sudah bisa menghitung sampai 200. Warna-warna dalam bahasa Inggris sudah fasih semua dan hitungan dalam bahasa Inggris dari nol sampai 100 diucapkan dengan lancar. Hitungan tambah-tambahan dengan jari sudah bisa sampai dengan 10. Ini semua adalah hasil pengajaran dari omnya yang mempunyai Ipat. Dia suka sekali main Ipat. Tetapi sebelum main, harus belajar dulu. Jadi sistemnya pemberian hadiah yang paling dia sukai supaya mau belajar. Akhirnya dapat membuahkan hasil. Jadi dalam tahap ini anak sudah mengarah ke tahap kompetensi lengkap.

Tahap kompetensi lengkap disebut juga oleh para ahli sebagai tahap perkembangan bahasa sesudah usia 5 tahun. Tampaknya pada tahap ini Wika dan Hanafi telah dapat menguasai bahasa pertamanya dan ketrampilan-ketrampilan bagaimanakah penyampaiannya dengan memadai sehingga orang sudah dapat memahaminya. Misalnya: Aku ke sekolah pagi sekali  yang  berarti Aku berangkat ke sekolah pagi sekali”, aku makan kue adik selalu minta “Ketika aku makan kue adik selalu minta”, Jangan ambil buku kakak dek nanti sobek, “Jangan diambil buku kakak nanti sobek” dan mama tak sayang aku tapi adik, yang berarti “Mama tak sayang aku tapi adik”.

Beberapa ahli menyatakan bahwa dalam tahap ini terdapat beberapa perkembangan pada perolehan bahasa anak-anak, antara lain; Smith menyatakan bahwa antara usia 5-8 tahun muncul ciri-ciri baru, yaitu kemampuan untuk mengerti hal-hal yang abstrak pada taraf yang lebih tinggi, kemudian pda usia 7-8 tahun barulah mulai bahwa bahasa menjadi alat yang betul-betul penting bagi mereka untuk melukiskan dan menyampaikan pikirannya. Di samping itu, terdapat pula penambahan kosa kata, penggunaan konjungsi, preposisi yang lebih tepat, dan penggunaan secara tepat kata-kata yang mempunyai makna fisik dan psikis, menggunakan kalimat pasif, serta lebih ekonomis dalam mengungkapkan sesuatu serta menghindari hal-hal yang berlebihan (Subiyakto, 1988: 89-90).

IV. Kesimpulan

 

Dari pengamatan sepintas terhadap 12 orang anak usia 0-7 tahun dalam proses pemerolehan bahasanya, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: yaitu melalui tiga tahap perkembangan pemerolehan bahasanya sesuai dengan usia-usia tertentu. Tahap pertama disebut tahap pralinguistik. Pada tahap ini, pemerolehan bahasa anak melalui dua tahapan pula, yaitu tahap pralinguistik pertama dan pralinguistik kedua. Tahap kedua adalah tahap linguistik, yang dapat dirinci dalam empat tahap, yaitu tahap linguistik pertama, tahap linguistik kedua, tahap linguistik ketiga, dan tahap linguistik keempat. Terakhir, adalah tahap kompetensi lengkap.

Dengan demikian, kita dapat memahami bahwa dari tahap-tahap yang dilakukan oleh anak-anak itu terlihat bahwa perkembangan bahasanya maju dan berkembang dalam suatu pola dan kaidah yang bertahap. Hal ini berarti bahwa penampilan tata bahas anak-anak tersebut dapat dikatakan tetap konstan dalam satu kurun waktu tertentu. Artinya, setiap terjadi perubahanusia, maka terjadi pula perubahan kemampuan anak-anak tersebut.Perubahan ini berjalan terus ke arah lebih baik sejalan dengan perubahan umur mereka ke arah yang lebih tinggi pula. Hal lain yang ikut mengalami perubahan bahasaitu adalah perubahan fisik mereka itu sendiri, dari belum bisa mengucapkan apa-apa sampai bisa mengucapkan dan menyampaikan buah pikiran atau suatu maksud.

Penelitian dengan pengamatan yang singkat ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam penelitian pemerolehan bahasa pertama usia o-7 tahun secara lebih mendalam nantinya. Selain itu, penelitian ini dapat juga sebagai landasan dalam meneliti perkembangan bahasa anak selanjutnya di usia remaja. Implikasi lain adalah sebagai masukan bagi guru bahasa kedua dalam memperoleh informasi tentang kemampuan dasar para murid atau siswanya. Hal ini, akan berguna sekali dalam memprogram materi dan strategi pembelajaran bahasa kedua.

DAFTAR PUSTAKA

Brown H. Douglas. 2007. Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa, Person Education Inc

Bolinger, Dwight. 1975. Aspect of Language, New York: Harcout Brace Jovanovich, Inc.

Dardjowijojo, Soenjono. 2005. Psiko Linguistik. Pengantar pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia.

Ellis, Rod. 1985. Understanding Second Language Acquisation. Walton Stree, Oxford. Oxford University Press.

Fromkin Victoria dan Robert Rodman. 1993. An Introduction to Language, Florida: Harcout Brace Jovanovich Collage.

Lyons , John. 1981. Language and Linguistic, Cambridge: University Press.

Pateda, Mansoer. 1990. Aspek-Aspek Psikolinguistik,Jogjakarta: Nusa Indah.

Simanjuntak, Mangantar. 1989. Theories of The Accuisition of Phonology, Jakarta: Gaya Media Bahasa.

…………………, 1990. Teori Fitur Distingtif dalam Fonologi Generatif: Perkembangan dan Penerapannya, Jakarta: Gaya Media Pratama.

Subiyakto N, Sri Utari. 1988. Psikolinguistik: Suatu Pengantar, Jakarta: Depdikbud.

Tarigan, Henry Guntur. 1986. Psikolinguistik, Bandung: Angkasa.

…………………., 1988. Pengajaran Pemerolehan Bahasa, Bandung: Angkasa.

 

 

 

     

 

 

IDEOLOGI DALAM TEKS IKLAN HAND PHONE

“BERBAGAI MERK HP”

(Suatu Kajian Wacana Kritis)

1. Pendahuluan

A. Latar Belakang
Bahasa adalah alat komunikasi penting yang digunakan untuk berinteraksi antar individu. Akan lebih bermakna apabila bahasa dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh para penuturnya. Dalam penuturannya, penutur dapat menafsirkan sesuatu yang disampaikan oleh penutur bahasa yang lain dengan penafsiran berbeda. Dalam hal ini para pengguna bahasa harus memahami isi wacana dengan baik, agar pesan dalam wacana dapat diterima dan tidak menimbulkan salah penafsiran.
Wacana adalah bentuk komunikasi tertulis di mana penulis dapat mengekspresikan ide , tujuan, masalah dan lain-lannya. Norman Fairclough, memandang bahwa pemahaman terhadap wacana selama ini lebih banyak didominasi oleh paradigma deskriptif yang bersifat nonkritis sehingga masih banyak dimensi kewacanaan yang belum terkuak dari pandangan tersebut. Fenomena wacana semata-mata dipandang sebagai unit linguistic yang lebih besar daripada klausa dan kalimat. Wacana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya), paragraph, kalimat atau kata yang membawa amanat lengkap.
Berdasarkan medianya wacana dibagi dalam bentuk lisan dan tertulis. Wacana dengan media komunikasi tertulis dapat diwujudkan dengan: (1) sebuah teks yang dibentuk oleh lebih dari satu alinea yang mengungkapkan sesuatu secara beruntun dan utuh, (2) sebuah alinea merupakan wacana, apabila teks hanya terdiri atas sebuah alinea dapat dianggap sebagai satu kesatuan situasi yang utuh. (3) sebuah wacana mungkin dapat dibentuk oleh sebuah kalimat majemuk dengan subordinasi dan koordinasi atau system ellipsis (Djadasudarma, 1994; 8). Jadi wacana tulis dapat diartikan sebagai wacana yang disampaikan dengan bahasa tulis atau media tulis. Dalam wacana ini terjadi komunikasi secara tidak langsung antara penulis dengan pembaca. Wacana-wacana yang berasal dari media, seperti surat kabar maupun majalah dapat dikaji baik dari segi tata bahasanya maupun dari segi koteksnya. Wacana-wacana dalam teks media yang menggunakan bahasa jurnalistik mempunyai keunikan tersendiri dan menarik untuk dikaji.
Salah satu wacana yang terdapat dalam media cetak adalah iklan, yang dapat dilihat dimana-mana dan salah satunya melalui koran. Teks iklan berbeda dengan teks lainnya. Iklan menggunakan bahasa-bahasa yang dapat digunakan untuk mempengaruhi seseorang agar mau menggunakan produk-produknya. Dengan menggunakan analisis wacana kita dapat mengetahui ideologi seseorang dalam teks tersebut.
Berdasarkan pemikiran tersebut, fenomena bahasa yang terdapat dalam teks sangatlah penting untuk dikaji, khususnya bagi para ahli bahasa karena teks yang dibuat tidak semata-mata bersifat alamiah, melainkan terkandung suatu ideologi yang mendasarinya. Oleh karena itu, salah satu cara untuk mengungkapkannya adalah dengan melakukan pengkajian yang bersifat kritis. Berdasarkan ketertarikan bahasa iklan tersebut maka dalam penelitian ini akan dibahas tentang “Iklan HP” yang terdapat dalam Koran Kompas.

B. Masalah
Yang menjadi masalah utama dalam penelitian ini adalah ideology dalam teks iklan HP yang terdapat dalam koran Kompas. Masalah tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut : Bagaimanakah ideologi dalam teks “iklan HP” yang terdapat dalam Koran Kompas?

C. Tujuan Penelitian
Untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang ideologi dalam teks iklan dan pengaruhnya terhadap praktik wacana dan publik.

II.KAJIAN TEORITIS

A. Ideologi
Kata ideologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu idea yang berarti gagasan, dan lugas yang berarti ilmu. Secara harafiah ideology berarti ilmu tentang ide-ide sesuai dengan perkembangan zaman, ilmu dan pengetahuan.
Teori-teori klasik tentang ideologi diantaranya mengatakan bahwa ideologi dibangun oleh kelompok yang dominan dengan tujuan untuk memproduksi dan melegitimasi dominasi mereka. Salah satu strategi utamanya adalah dengan membuat kesadaran kepada khalayak bahwa dominasi itu diterima secara taken for granted. Wacana dalam pendekatan semacam ini dipandang sebagai medium di mana kelompok yang dominan mempersuasi dan mengkonsumsikan kepada khalayak produksi produksi kekuasaan dan dominan yang mereka miliki, sehingga tampak absah dan benar sesuai dengan apa yang dikatakan van Djik (1998: 25). “Discourse in this approach essentially serves as the medium by which ideologies are permasive communicated in societies, and there by helps reproduce power and domination of specific group or classes” Ideologi dari kelompok dominan hanya efektif jika didasarkan pada kenyataan bahwa anggota komunikasi termasuk yang didominasi menganggap hal tersebut sebagai kebenaran dan kewajaran.
Dengan pandangan semacam ini, wacana dipahami sebagai sesuatu yang tidak netral dan berlangsung secara tidak alamiah, karena dalam setiap wacana selalu terkandung ideologi untuk mendominasi dan berebut pengaruh.
Faircloug (dalam Philips dan Jorgensen, 2002: 75) menjelaskan bahwa ideologi merupakan makna yang melayani kekuasaan. Lebih tepatnya, dia memahami bahwa ideologi sebagai pengkonstruksian makna yang memberikan kontribusi bagi pemproduksian, pereproduksian, dan transformasi hubungan-hubungan dominasi.
Fairclough Jorgensen and Philips (2002: 76) menjelaskan bahwa subjek diposisikan secara ideologis, tapi subjek diposisikan secara ideologis, tapi subjek juga mampu bertindak secara kreatif untuk menciptakan hubungan-hubungan antara praktik-praktik dan ideologi-ideologi yang beragam tempat dipajankannya subjek tersebut dan menata kembali praktik dan struktur itu.

B. Iklan
Menurut Alwi (2002: 421) iklan adalah berita pesanan untuk mendo-rong, membujuk khalayak agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan. Berita pesana tersebut dapat berupa teks, gambar, walau verbal dengan menggunakan media Surat Kabar (koran), televisi, radio dan yang lainnya. Senada dengan pendapat di atas, Walter (2008: 21) mengatakan bahwa iklan adalah sebuah gambar, film yang pendek, lagu dan lain-lain yang mencoba membujuk orang untuk membeli produk atau jasa.
Kasali (1992:9 mengatakan bahwa iklan adalah bauran promosi (pro-motion mix ) dan bauran promosi adalah bagian dari bauran pemasaran (marketing mix). Secara sederhana, iklan diartikan sebagai pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat lewat suatu media.
Dari pendapat-pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa iklan sengaja dibuat untuk mendorong, mempengaruhi, meyakinkan orang agar membeli produk atau jasa yang ditawarkan.

C. Analisis Wacana Kritis
Analisis Wacana Kritis menyediakan teori dan metode yang bisa digunakan untuk melakukan kajian empiris tentang hubungan-hubungan antara wacana dan perkembangan sosial dan kultural dalam domain-domain sosial yang berbeda.
Analisis Norman Fairclough didasarkan pada pertanyaan besar, bagaimana menghubungkan teks yang makro. Fairclough berusaha membangun suatu model analisis wacana yang mempunyai kontribusi dalam analisis sosial dan budaya, sehingga ia mengkombinasikan tradisi analisis tekstual yang selalu melihat bahwa dalam ruang tertutup dengan konteks masyarakat yang lebih luas. Titik perhatian Fairclough adalah melihat bagaimana pemakai bahasa membawa nilai ideologi tertentu. Dalam hal ini dibutuhkan analisis secara menyeluruh.Bahasa secara sosial dan kritis adalah bentuk tindakan, dalam hubungan dialektik dengan struktur sosial. Oleh karena itu, analisis harus dipisahkan pada bagian bahasa terbentuk dan dibentuk dari relasi sosial dan konteks sosial tertentu (Fairclough, 1998: 131-132).
Fairclouhg membuat suatu model yang mengintegrasikan secara bersama-sama analisis wacana yang didasarkan pada linguistik, permasalahan-permasalahan sosial dan politik, dan secara umum diintregasikan pada perubahan sosial. Oleh karena itu, model yng dikemukakan oleh Fairclough ini sering disebut juga model perubahan sosial (social change). Fairclough memusatkan perhatian wacana pada bahasa. Fairclough menggunakan wacana menunjuk pada pemakaian bahasa sebagai praktik sosial, lebih daripada individu atau merefleksikan sesuatu. Bahasa sebagain praktik sosial mengandung implikasi. Pertama, wacana adalah bentuk dari tindakan, seseorang menggunakan bahasa sebagai suatu tindakan pada dunia dan khususnya sebagai bentuk individu.Kedua, model ini mengimplikasikan adanya hubungan timbal balik antara wacana dan struktur sosial.Dalam hal ini, wacana terbagi oleh stuktur sosial, kelas, dan relasi sosial lain yang dihubungkan dengan relasi spesifik dari institusi tertentu seperti pada buku, pendidikan, sosial, dan klasifikasi (Fairclough, 1992: 63-64).
Philips dan Jorgensen menjelaskan bahwa model 3 dimensi Fairclough sebagai analisis wacana kritis disebabkan oleh setiap peristiwa yang menggunakan bahasa merupakan peristiwa komunikatif yang terdiri atas tiga dimensi, yaitu (a) teks (tuturan,pencitraan visual), (b) praktik wacana yang melibatkan pemroduksian dan pengkonsumsian teks, (c) praktik sosial.

III. METODE PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ideologi dalam teks iklan melalui kajian analisis wacana kritis. Fokus penelitian ini adalah teks iklan HP dari berbagai merk yang terdapat dalam Koran Kompas.
Metode penelitian yang digunakan adalah model tiga dimensi Fairclough yang digambarkan sebagai berikut:

(Norman Fairclough, Critical discourse Analysis: the Critical Study of language) (New York: Longman Group Limited, 1995) p.98)

Keterangan:
1. Deskripsi (analisis teks) adalah bentuk dan isi teks. Analisis tersebut adalah analisis fonologi, tatabahasa, kosakata, semantik, juga aspek supra-sentensial organisasi tekstual, seperti kohesi, pengambilan giliran dalam bercakap-cakap.
2. Interpreasi (praktik wacana) adalah hubungan antara teks dan praktik sosial. Praktik wacana berkaitan dengan aspek sosiokognitif produksi dan interpretasi teks
3. Ekspanasi (praktik sosial) berhubungan dengan berbagai tataran organisasi sosial yang berbeda-beda: situasi, konteks institusional, konteks sosial atau kelompok yang lebih luas; dalam hal ini permasalahan kekuasaan menjadi tema pokok.

IV. PEMBAHASAN
1. Deskripsi
Teks yang dideskripsikan merupakan teks iklan HP dari berbagai merk yang terdapat dalam Koran Kompas. Masing-masing merk memperlihatkan keunggulannya dengan bahasa-bahasa yang menunjukkan kehebatan-kehebatannya
Marilah kita lihat kata-kata dari masing-masing HP:
Sang “Penguasa Galaksi”
Apa saja ciri-ciri ponsel pintar masa depan?
Ini pertanyaan yang cukup sulit. Namun, sedikit bocoran, ponsel pintar pada masa depan seharusnya mampu mengambil obyek gambar bergerak secara cepat hingga puluhan foto sekaligus.Ponsel tersebut pun seharusnya mampu tetap memutar video sembari memeriksa e-mail atau SMS dalam tampilan PIP (picture-in-picture)

Hanya itu? Tentu saja tidak. Ponsel tersebut juga seharusnya memiliki layar tetap menyala selama anda masih menatapnya. Berbagai informasi seperti perkiraan cuaca mingguan, lokasi restoran pizza terdekat, mencari nomor kontak, hingga mengambil gambar pun seharusnya sudah bisa dilakukan hanya dengan perin tah suara. Ponsel tersebut juga seharusnya sudah mampu mengirim berbagai konten, seperti video, lagu, gambar, atau dokumen hanya dengan mendekatkan ponsel satu dengan lainnya.
Ya, kira-kira seperti itulah gambaran ponsel pintar pada masa depan. Namun, kapan ponsel tersebut bisa kita nikmati secara langsung? Tahun depan? Atau, mungkin lima tahun lagi? Tenang, kita tak perlu lama menunggu karena Samsung menghadirkan teknologi masa depan tersebut sekarang juga.
Wajar rasanya jika Samsung dinobatkan sebagai “penguasa galaksi”. Maklum, berbagai produk seri Galaxy yang diluncurkannya termasuk laris manis di pasaran. Seiring dengan kesuksesan ponsel seri Galaksi, Samsung kembali melakukan terobosan melalui ponsel yang layak disebut ponsel premium impian, yaitu Samsung Galaxy S III.
Samsung S III khusus didesain sebagai smartphone that understsand you dan diluncurkan dalam dua warna, yaitu Pebble Blue dan Marble White (Kompas, Jumat, 15 Juni 2012).

PORSCHE DESIGN Blackberry

PORSCHE DESIGN
SMARTPHONE P’9981
EXCLUSIVE ELEGANCE
Timeless style by Porsche Design meets state-of-the-art- technology by BlackBerry: the exlusive P’9981 smartphone. For all who make decisions with style (Kompas, Jumat, 15 Juni 2012)

CROSS MOBILE
IT’S YOUR PRIDE

CONGRATULATIONS TO CROSS Mobile Phone
As Indonesia’s best mobile phone brand by
achieving

WORLD CLASS QUALITY ACHIEVEMENT
5-STAR QUALITY PRODUCT IN 2012
and
CERTIFICATE OF PERFORMANCE
5-STAR QUALITY PRODUCT IN 2012

GCSS is certification conducted by MARS Indonesia as the exlusive lisence holder of the American Customer Satisfaction Index (ACSI) in Indonesia. The survey is assessing the customer satisfaction with product quality and brand of telecomunications services in Indonesia and also the brand position in the midst of global competition. The survey was conducted upon 5 major brands of mobile phone in Indonesia and taken in major cities all around Indonesia.
GCSS adalah setifikat yang dikeluarkan oleh MARS Indonesia sebagai pemegang lisensi eksklusife American Customer Satisfaction Index (ACSI) di Indonesia dan juga posisi brand di tengah persaingan global. Survey dilakukan kepada 5 top brand handphone dan dilaksanakan di kota-kota besar di Indonesia (Kompas, Jumat, 15 Juni 2012).

NOKIA LUMIA 900 indosat

YOUR LIFE IN THE BIGGER SCREEN
Cek email, browsing, update sosial media hingga video call di Live Tiles dengan display yang lebih besar. Kini semua tampak lebih jelas dan lebih detail dengan display 4,3 inchi

The New Nokia Lumia 900, Beautifully Different.
(Kompas, Jumat, 15 Juni 2012)

SONY Tangkap banyak hadiah dan diskon dari ponsel superhero
Make-believe
Ada 4 macam bentuknya: X peria S X peria P X peria Sola X peria U
(Kompas, Jumat, 22 Juni 2012)

MOTOROLA

SIAP HADAPI APAPUN YANG

AKAN ANDA TEMUI DALAM HIDUP

Datang dadakan ke pesta di pantai dengan sobat-sobatmu?
Dengan ponsel Motorola seri Defy yang tahan air, debu dan gores, kamu pun selalu siap untuk seru-seruan kapan pun, di mana pun!

MOTOROLA DEFY SERIES
Smartphone Sesungguhnya.
(Kompas, Senin, 25 Juni 2012)

BlackBerry
Tampil dengan beberapa model dan harga-harganya
(Kompas, Jumat, 29 Juni 2012)

H T C
Amazing Phone Fantastic Offer!
+ 0 % instalment
(Kompas,Jumat, 29 Juni 2012)

Blueberry
Tampil dengan harga-harga dari Rp.349.000 menjadi Rp.249.000
Rp.499.000 menjadi Rp.369.000
Dengan penampilan artis terkenal Agnes Monika
(Kompas, Jumat 25 Juni 2012)

Sekarang marilah kita tinjau satu persatu

SAMSUNG
SANG “ PENGUASA GALAKSI “ Kata yang menggunakan bentuk personifikasi untuk menonjolkan SANG PENGUASA merupakan julukan untuk Pencipta alam yang menguasai alam dan tidak ada yang mampu menandinginya. Ini berarti HP Samsung tidak ada tandingannya. HP inilah segala-galanya dari semua jenis HP.

Apa saja ciri-ciri ponsel pintar masa depan?
Setelah personifikasi yang berhubungan dengan yang Maha Kuasa, kemudian digunakanlah personifikasi yang berhubungan dengan ciptaannya yaitu manusia. Kata “ponsel pintar” merupakan gambaran otak manusia. Kemampuan otak merupakan hal yang paling utama untuk melakukan semua aktifitas. Orang yang pintar tentu akan cepat tanggap sehingga aktifitas yang dilakukannya akan selalu mengikuti perkembangan jaman, begitu pula untuk masa mendatang. Hal ini dapat dilihat dari kalimat-kalimat berikutnya yang menunjukkan kepintaran, yaitu memberikan informasi perkiraan cuaca, lokasi restoran pizza yang terdekat, mencari nomor kontak, sampai mengambil gambar pun bisa dilakukan denga perintah suara. Kepintaran untuk teknologi masa depan dapat ditampilkan sekarang juga dengan menampilkan asamsung Galaxy S III dalam dua warna, yaitu Pebble Blue dan Marble White.

Itulah kata-kata dan kalimat yang diwujudkan dalam teks iklan yang keseluruhannya menggunakan bahasa Indonesia. Semua kata-kata yang dirangkai dalam suatu wacana iklan untuk membujuk orang agar mau membeli produknya.

BLACK BERRY
Kata-kata yang digunakan untuk menonjolkan kehebatan dan untuk menarik pembeli dengan menggunakan kata-kata berbahasa Inggris. Tidak ada satu pun yang berbahasa Indonesia. Produk ini merasa produknya merupakan produk yang sudah terkenal di selusuh dunia. Jadi tidak perlu lagi menggunakan bahasa di mana produk tersebut diiklankan. Jadi kata-kata yang digunakan adalah bahasa Internasional. Walaupun berbahasa Inggris, tetapi kata yang dipilih adalah kata-kata yang cukup dimengerti oleh semua orang, antara lain: SMART PHONE, EXCLUSIVE ELEGANCE. Tidak memerlukan keterangan yang panjang lebar seperti Samsung, tetapi HP ini dapat mendominasi merk-merk HP yang lain.

CROSS
Kata-kata yang digunakan untuk menonjolkan kehebatan dan menarik pembeli adalah kata-kata yang sebagian besar berbahasa Inggris. Bahasa Indonesia hanya sedikit digunakan dan itu pun merupakan penerjemahan. Berarti merk ini seperti Black Berry, namun belum setarafnya. Sehingga untuk menembus pasaran di suatu negara perlu sedikit menggunakan bahasa resmi negara tersebut agar lebih jelas dan lebih meyakinkan tentang kualitas dari merk tersebut. Kata-kata itu antara lain: WORLD CLASS QUALITY ACHIEVMENT dan CERTIFICATE of PERFORMANCE.

NOKIA
Kata-kata yang digunakan untuk menonjolkan kehebatan dan menarik pembeli menggunakan kata-kata campuran. Jumlah kata-kata yang berbahasa Inggris sama dengan yang berbahasa Indonesia. Yang berbahasa Inggris, YOUR LIVE IN THE BIGGER SCREEN, dan The New Nokia Lumia 900, Beautifully Different. Kata-kata ini pun cukup menarik perhatian orang. Kata-kata yang berbahasa Indonesia bukan merupakan terjemahan dari kata-kata bahasa Inggrisnya.

SONY
Dengan kata daya tariknya “ Tangkap banyak hadiah dan diskon dari ponsel superhero”. Juga dengan menampilkan 4 model. Merk ini menggunakan bahasa Indonesia hampir secara keseluruhan. Dan ini kemungkinan untuk menjangkau kelas bawah, mengingat harga yang dipasang seharga Rp 500.000

MOTOROLA
Untuk menarik pembeli sebagian besar kata-katanya menggunakan bahasa Indonesia. Harga yang ditawarkan Rp 1,999,000 dan Rp 2,888,000. Harga ini sepertinya ditujukan pada kelas menengah. Yang diharapkan tentu saja bias menjangkau semua kelas, mengingat sekarang ini orang mempunyai hand phone lebih dari satu.

BlackBerry
Tampil lagi dengan sebagian besar menggunakan kata-kata berbahasa Indonesia dengan menunjukkan model dan harga yang beragam: Rp.5,799,000 Rp,2,999,000 Rp,3,399,000 Rp,2,499,000. Hal ini menunjukkan bahwa merk ini juga ingin merebut pembeli yang sebanyak-banyaknya dari Negara Indonesia. Tadinya hanya menggunakan bahasa Inggris namun persaingan dalam periklanan sangat ketat untuk merebut pembeli.

H T C
Semua kata-katanya menggunakan bahasa Inggris. Merk ini bersaing keras dengan Blackberry, namun juga disertai gambar berbagai bentuk dan harganya yang mendapatkan perubahan. Harga-harga itu antara lain: Rp 5.499.000 menjadi Rp 4.999.000 Rp 3.999.000 menjadi Rp3.499.000
Rp 1.999.000 menjadi Rp 1.499.000. Dan ada yang boleh dicicil karena harganya agak mahal, yaitu Rp 6.599.000 dengan cicilan Rp 549.917 x12
Rp 2.999.000 dengan cicilan Rp 249.917 x 12. Inilah cara merk ini mengunggulkan produknya.

Blueberry
Produk baru agar dilirik pembeli menggunakan merk yang mirip dengan Blackberry. Harganyapun murah dan mendapatkan diskon, yaitu: Rp 349.000 menjadi Rp 249.000 Rp 499.000 menjadi Rp 369.000 serta disertai gambar artis terkenal Agnes Monika. Bisnis handphone benar-benar menhadapi persaingan ketat lewat iklan.

2. Interpretasi
Teks iklan seperti iklan HP yang diproduksi oleh masing-masing merk menunjukkan ideologi yaitu mencari keuntungan sebanyak-banyaknya melalui persaingan untuk merebut pasaran. Walaupun terjadi persaingan namun tidak ada kata-kata untuk menjatuhkan merk lain . Mereka menggunakan kata-kata untuk menonjolkan diri sendiri serta kata-kata untuk menarik orang lain agar tertarik untuk membeli produknya.
Dengan membaca kata-kata yang mereka pampangkan, maka harapannya adalah untuk mendapatkan pembeli sebanyak mungkin. Orang yang tadinya tidak tahu, dengan membaca koran yang berisikan iklan HP, menjadi tahu dan berkeinginan untuk membelinya. Sekarang ini, anak kecil pun sudah tahu HP sehingga iklan HP yang ada di koran dapat memicu anak untuk memiliki HP tersebut.

PENUTUP
Berdasarkan analisa di atas maka dapat disimpulkan bahwa iklan HP merupakan wacana persuasif. Iklan tersebut menggunakan bahasa yang padat, lugas dan singkat. Kejelasan dan bahasa yang menarik akan menentukan keberhasilan maksud iklan tersebut.
Ideologi dalam teks iklan HP merupakan bentuk ideologi kapitalisme informasi. Unsur persuasi dalam iklan tersebut jelas kelihatan sehingga bisa menarik semua kalangan bahkan anak-anak kecil pun ikut tertarik (walaupun belum bisa membaca, tetapi melihat gambarnya).
Analisis wacana kritis dapat menjadi mediasi pengungkapan proses interpretasi yang ada dalam teks.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan ((Tim Redaksi, 2002) Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional dan Balai Pustaka

Darma Yoce Allah 2009. Analisis Wacana Kritis. Bandung Yrama Widya
Djajasudarma, Fatimah 1994. Wacana, Bandung PT . Emesco
Fairclough, Norman 1995.Critical Discourse Analysis : the critical study of language. New york Longman Group Limited

Fairclough, N. (1998). Discourse representation in media discource, Sosiolinguistics. Cambridge : Polity Press.

Fairclough, N. (1992) Discource and Social Change, Cambride: Polity Press

Fairclough, Norman 2003. Analysis Discource. New York Routledge

Kasali, Rheinhal 1992. Manajemen Periklanan (Konsep dan Aplikasinya di Indonesia). Jakarta PT. Pustaka Utama Grafiti

Philips, Lourse & Jorgensen, Naranne 2002. Discource Analysis as Theory and Method. London : Sage Publications

Thompson, John B. 2006. Kritik Ideologi : Teori Sosial Kritis tentang Relasi Ideologi dan Komunikasi Massa, Yogyakarta IRCIOD.

Van Dijk, T (1998) Ideology: a Multidisciplinary Approach, London: Sage.

Walter, Elisabeth (Editorial Team) 2008. Cambridge Advance Leaner’s Dictionary. Cambridge : Cambridge University Press

IDEOLOGI DALAM TEKS IKLAN HAND PHONE

“BERBAGAI MERK HP”

(Suatu Kajian Wacana Kritis)

1. Pendahuluan

A. Latar Belakang
Bahasa adalah alat komunikasi penting yang digunakan untuk berinteraksi antar individu. Akan lebih bermakna apabila bahasa dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh para penuturnya. Dalam penuturannya, penutur dapat menafsirkan sesuatu yang disampaikan oleh penutur bahasa yang lain dengan penafsiran berbeda. Dalam hal ini para pengguna bahasa harus memahami isi wacana dengan baik, agar pesan dalam wacana dapat diterima dan tidak menimbulkan salah penafsiran.
Wacana adalah bentuk komunikasi tertulis di mana penulis dapat mengekspresikan ide , tujuan, masalah dan lain-lannya. Norman Fairclough, memandang bahwa pemahaman terhadap wacana selama ini lebih banyak didominasi oleh paradigma deskriptif yang bersifat nonkritis sehingga masih banyak dimensi kewacanaan yang belum terkuak dari pandangan tersebut. Fenomena wacana semata-mata dipandang sebagai unit linguistic yang lebih besar daripada klausa dan kalimat. Wacana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya), paragraph, kalimat atau kata yang membawa amanat lengkap.
Berdasarkan medianya wacana dibagi dalam bentuk lisan dan tertulis. Wacana dengan media komunikasi tertulis dapat diwujudkan dengan: (1) sebuah teks yang dibentuk oleh lebih dari satu alinea yang mengungkapkan sesuatu secara beruntun dan utuh, (2) sebuah alinea merupakan wacana, apabila teks hanya terdiri atas sebuah alinea dapat dianggap sebagai satu kesatuan situasi yang utuh. (3) sebuah wacana mungkin dapat dibentuk oleh sebuah kalimat majemuk dengan subordinasi dan koordinasi atau system ellipsis (Djadasudarma, 1994; 8). Jadi wacana tulis dapat diartikan sebagai wacana yang disampaikan dengan bahasa tulis atau media tulis. Dalam wacana ini terjadi komunikasi secara tidak langsung antara penulis dengan pembaca. Wacana-wacana yang berasal dari media, seperti surat kabar maupun majalah dapat dikaji baik dari segi tata bahasanya maupun dari segi koteksnya. Wacana-wacana dalam teks media yang menggunakan bahasa jurnalistik mempunyai keunikan tersendiri dan menarik untuk dikaji.
Salah satu wacana yang terdapat dalam media cetak adalah iklan, yang dapat dilihat dimana-mana dan salah satunya melalui koran. Teks iklan berbeda dengan teks lainnya. Iklan menggunakan bahasa-bahasa yang dapat digunakan untuk mempengaruhi seseorang agar mau menggunakan produk-produknya. Dengan menggunakan analisis wacana kita dapat mengetahui ideologi seseorang dalam teks tersebut.
Berdasarkan pemikiran tersebut, fenomena bahasa yang terdapat dalam teks sangatlah penting untuk dikaji, khususnya bagi para ahli bahasa karena teks yang dibuat tidak semata-mata bersifat alamiah, melainkan terkandung suatu ideologi yang mendasarinya. Oleh karena itu, salah satu cara untuk mengungkapkannya adalah dengan melakukan pengkajian yang bersifat kritis. Berdasarkan ketertarikan bahasa iklan tersebut maka dalam penelitian ini akan dibahas tentang “Iklan HP” yang terdapat dalam Koran Kompas.

B. Masalah
Yang menjadi masalah utama dalam penelitian ini adalah ideology dalam teks iklan HP yang terdapat dalam koran Kompas. Masalah tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut : Bagaimanakah ideologi dalam teks “iklan HP” yang terdapat dalam Koran Kompas?

C. Tujuan Penelitian
Untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang ideologi dalam teks iklan dan pengaruhnya terhadap praktik wacana dan publik.

II.KAJIAN TEORITIS

A. Ideologi
Kata ideologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu idea yang berarti gagasan, dan lugas yang berarti ilmu. Secara harafiah ideology berarti ilmu tentang ide-ide sesuai dengan perkembangan zaman, ilmu dan pengetahuan.
Teori-teori klasik tentang ideologi diantaranya mengatakan bahwa ideologi dibangun oleh kelompok yang dominan dengan tujuan untuk memproduksi dan melegitimasi dominasi mereka. Salah satu strategi utamanya adalah dengan membuat kesadaran kepada khalayak bahwa dominasi itu diterima secara taken for granted. Wacana dalam pendekatan semacam ini dipandang sebagai medium di mana kelompok yang dominan mempersuasi dan mengkonsumsikan kepada khalayak produksi produksi kekuasaan dan dominan yang mereka miliki, sehingga tampak absah dan benar sesuai dengan apa yang dikatakan van Djik (1998: 25). “Discourse in this approach essentially serves as the medium by which ideologies are permasive communicated in societies, and there by helps reproduce power and domination of specific group or classes” Ideologi dari kelompok dominan hanya efektif jika didasarkan pada kenyataan bahwa anggota komunikasi termasuk yang didominasi menganggap hal tersebut sebagai kebenaran dan kewajaran.
Dengan pandangan semacam ini, wacana dipahami sebagai sesuatu yang tidak netral dan berlangsung secara tidak alamiah, karena dalam setiap wacana selalu terkandung ideologi untuk mendominasi dan berebut pengaruh.
Faircloug (dalam Philips dan Jorgensen, 2002: 75) menjelaskan bahwa ideologi merupakan makna yang melayani kekuasaan. Lebih tepatnya, dia memahami bahwa ideologi sebagai pengkonstruksian makna yang memberikan kontribusi bagi pemproduksian, pereproduksian, dan transformasi hubungan-hubungan dominasi.
Fairclough Jorgensen and Philips (2002: 76) menjelaskan bahwa subjek diposisikan secara ideologis, tapi subjek diposisikan secara ideologis, tapi subjek juga mampu bertindak secara kreatif untuk menciptakan hubungan-hubungan antara praktik-praktik dan ideologi-ideologi yang beragam tempat dipajankannya subjek tersebut dan menata kembali praktik dan struktur itu.

B. Iklan
Menurut Alwi (2002: 421) iklan adalah berita pesanan untuk mendo-rong, membujuk khalayak agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan. Berita pesana tersebut dapat berupa teks, gambar, walau verbal dengan menggunakan media Surat Kabar (koran), televisi, radio dan yang lainnya. Senada dengan pendapat di atas, Walter (2008: 21) mengatakan bahwa iklan adalah sebuah gambar, film yang pendek, lagu dan lain-lain yang mencoba membujuk orang untuk membeli produk atau jasa.
Kasali (1992:9 mengatakan bahwa iklan adalah bauran promosi (pro-motion mix ) dan bauran promosi adalah bagian dari bauran pemasaran (marketing mix). Secara sederhana, iklan diartikan sebagai pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat lewat suatu media.
Dari pendapat-pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa iklan sengaja dibuat untuk mendorong, mempengaruhi, meyakinkan orang agar membeli produk atau jasa yang ditawarkan.

C. Analisis Wacana Kritis
Analisis Wacana Kritis menyediakan teori dan metode yang bisa digunakan untuk melakukan kajian empiris tentang hubungan-hubungan antara wacana dan perkembangan sosial dan kultural dalam domain-domain sosial yang berbeda.
Analisis Norman Fairclough didasarkan pada pertanyaan besar, bagaimana menghubungkan teks yang makro. Fairclough berusaha membangun suatu model analisis wacana yang mempunyai kontribusi dalam analisis sosial dan budaya, sehingga ia mengkombinasikan tradisi analisis tekstual yang selalu melihat bahwa dalam ruang tertutup dengan konteks masyarakat yang lebih luas. Titik perhatian Fairclough adalah melihat bagaimana pemakai bahasa membawa nilai ideologi tertentu. Dalam hal ini dibutuhkan analisis secara menyeluruh.Bahasa secara sosial dan kritis adalah bentuk tindakan, dalam hubungan dialektik dengan struktur sosial. Oleh karena itu, analisis harus dipisahkan pada bagian bahasa terbentuk dan dibentuk dari relasi sosial dan konteks sosial tertentu (Fairclough, 1998: 131-132).
Fairclouhg membuat suatu model yang mengintegrasikan secara bersama-sama analisis wacana yang didasarkan pada linguistik, permasalahan-permasalahan sosial dan politik, dan secara umum diintregasikan pada perubahan sosial. Oleh karena itu, model yng dikemukakan oleh Fairclough ini sering disebut juga model perubahan sosial (social change). Fairclough memusatkan perhatian wacana pada bahasa. Fairclough menggunakan wacana menunjuk pada pemakaian bahasa sebagai praktik sosial, lebih daripada individu atau merefleksikan sesuatu. Bahasa sebagain praktik sosial mengandung implikasi. Pertama, wacana adalah bentuk dari tindakan, seseorang menggunakan bahasa sebagai suatu tindakan pada dunia dan khususnya sebagai bentuk individu.Kedua, model ini mengimplikasikan adanya hubungan timbal balik antara wacana dan struktur sosial.Dalam hal ini, wacana terbagi oleh stuktur sosial, kelas, dan relasi sosial lain yang dihubungkan dengan relasi spesifik dari institusi tertentu seperti pada buku, pendidikan, sosial, dan klasifikasi (Fairclough, 1992: 63-64).
Philips dan Jorgensen menjelaskan bahwa model 3 dimensi Fairclough sebagai analisis wacana kritis disebabkan oleh setiap peristiwa yang menggunakan bahasa merupakan peristiwa komunikatif yang terdiri atas tiga dimensi, yaitu (a) teks (tuturan,pencitraan visual), (b) praktik wacana yang melibatkan pemroduksian dan pengkonsumsian teks, (c) praktik sosial.

III. METODE PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ideologi dalam teks iklan melalui kajian analisis wacana kritis. Fokus penelitian ini adalah teks iklan HP dari berbagai merk yang terdapat dalam Koran Kompas.
Metode penelitian yang digunakan adalah model tiga dimensi Fairclough yang digambarkan sebagai berikut:

(Norman Fairclough, Critical discourse Analysis: the Critical Study of language) (New York: Longman Group Limited, 1995) p.98)

Keterangan:
1. Deskripsi (analisis teks) adalah bentuk dan isi teks. Analisis tersebut adalah analisis fonologi, tatabahasa, kosakata, semantik, juga aspek supra-sentensial organisasi tekstual, seperti kohesi, pengambilan giliran dalam bercakap-cakap.
2. Interpreasi (praktik wacana) adalah hubungan antara teks dan praktik sosial. Praktik wacana berkaitan dengan aspek sosiokognitif produksi dan interpretasi teks
3. Ekspanasi (praktik sosial) berhubungan dengan berbagai tataran organisasi sosial yang berbeda-beda: situasi, konteks institusional, konteks sosial atau kelompok yang lebih luas; dalam hal ini permasalahan kekuasaan menjadi tema pokok.

IV. PEMBAHASAN
1. Deskripsi
Teks yang dideskripsikan merupakan teks iklan HP dari berbagai merk yang terdapat dalam Koran Kompas. Masing-masing merk memperlihatkan keunggulannya dengan bahasa-bahasa yang menunjukkan kehebatan-kehebatannya
Marilah kita lihat kata-kata dari masing-masing HP:
Sang “Penguasa Galaksi”
Apa saja ciri-ciri ponsel pintar masa depan?
Ini pertanyaan yang cukup sulit. Namun, sedikit bocoran, ponsel pintar pada masa depan seharusnya mampu mengambil obyek gambar bergerak secara cepat hingga puluhan foto sekaligus.Ponsel tersebut pun seharusnya mampu tetap memutar video sembari memeriksa e-mail atau SMS dalam tampilan PIP (picture-in-picture)

Hanya itu? Tentu saja tidak. Ponsel tersebut juga seharusnya memiliki layar tetap menyala selama anda masih menatapnya. Berbagai informasi seperti perkiraan cuaca mingguan, lokasi restoran pizza terdekat, mencari nomor kontak, hingga mengambil gambar pun seharusnya sudah bisa dilakukan hanya dengan perin tah suara. Ponsel tersebut juga seharusnya sudah mampu mengirim berbagai konten, seperti video, lagu, gambar, atau dokumen hanya dengan mendekatkan ponsel satu dengan lainnya.
Ya, kira-kira seperti itulah gambaran ponsel pintar pada masa depan. Namun, kapan ponsel tersebut bisa kita nikmati secara langsung? Tahun depan? Atau, mungkin lima tahun lagi? Tenang, kita tak perlu lama menunggu karena Samsung menghadirkan teknologi masa depan tersebut sekarang juga.
Wajar rasanya jika Samsung dinobatkan sebagai “penguasa galaksi”. Maklum, berbagai produk seri Galaxy yang diluncurkannya termasuk laris manis di pasaran. Seiring dengan kesuksesan ponsel seri Galaksi, Samsung kembali melakukan terobosan melalui ponsel yang layak disebut ponsel premium impian, yaitu Samsung Galaxy S III.
Samsung S III khusus didesain sebagai smartphone that understsand you dan diluncurkan dalam dua warna, yaitu Pebble Blue dan Marble White (Kompas, Jumat, 15 Juni 2012).

PORSCHE DESIGN Blackberry

PORSCHE DESIGN
SMARTPHONE P’9981
EXCLUSIVE ELEGANCE
Timeless style by Porsche Design meets state-of-the-art- technology by BlackBerry: the exlusive P’9981 smartphone. For all who make decisions with style (Kompas, Jumat, 15 Juni 2012)

CROSS MOBILE
IT’S YOUR PRIDE

CONGRATULATIONS TO CROSS Mobile Phone
As Indonesia’s best mobile phone brand by
achieving

WORLD CLASS QUALITY ACHIEVEMENT
5-STAR QUALITY PRODUCT IN 2012
and
CERTIFICATE OF PERFORMANCE
5-STAR QUALITY PRODUCT IN 2012

GCSS is certification conducted by MARS Indonesia as the exlusive lisence holder of the American Customer Satisfaction Index (ACSI) in Indonesia. The survey is assessing the customer satisfaction with product quality and brand of telecomunications services in Indonesia and also the brand position in the midst of global competition. The survey was conducted upon 5 major brands of mobile phone in Indonesia and taken in major cities all around Indonesia.
GCSS adalah setifikat yang dikeluarkan oleh MARS Indonesia sebagai pemegang lisensi eksklusife American Customer Satisfaction Index (ACSI) di Indonesia dan juga posisi brand di tengah persaingan global. Survey dilakukan kepada 5 top brand handphone dan dilaksanakan di kota-kota besar di Indonesia (Kompas, Jumat, 15 Juni 2012).

NOKIA LUMIA 900 indosat

YOUR LIFE IN THE BIGGER SCREEN
Cek email, browsing, update sosial media hingga video call di Live Tiles dengan display yang lebih besar. Kini semua tampak lebih jelas dan lebih detail dengan display 4,3 inchi

The New Nokia Lumia 900, Beautifully Different.
(Kompas, Jumat, 15 Juni 2012)

SONY Tangkap banyak hadiah dan diskon dari ponsel superhero
Make-believe
Ada 4 macam bentuknya: X peria S X peria P X peria Sola X peria U
(Kompas, Jumat, 22 Juni 2012)

MOTOROLA

SIAP HADAPI APAPUN YANG

AKAN ANDA TEMUI DALAM HIDUP

Datang dadakan ke pesta di pantai dengan sobat-sobatmu?
Dengan ponsel Motorola seri Defy yang tahan air, debu dan gores, kamu pun selalu siap untuk seru-seruan kapan pun, di mana pun!

MOTOROLA DEFY SERIES
Smartphone Sesungguhnya.
(Kompas, Senin, 25 Juni 2012)

BlackBerry
Tampil dengan beberapa model dan harga-harganya
(Kompas, Jumat, 29 Juni 2012)

H T C
Amazing Phone Fantastic Offer!
+ 0 % instalment
(Kompas,Jumat, 29 Juni 2012)

Blueberry
Tampil dengan harga-harga dari Rp.349.000 menjadi Rp.249.000
Rp.499.000 menjadi Rp.369.000
Dengan penampilan artis terkenal Agnes Monika
(Kompas, Jumat 25 Juni 2012)

Sekarang marilah kita tinjau satu persatu

SAMSUNG
SANG “ PENGUASA GALAKSI “ Kata yang menggunakan bentuk personifikasi untuk menonjolkan SANG PENGUASA merupakan julukan untuk Pencipta alam yang menguasai alam dan tidak ada yang mampu menandinginya. Ini berarti HP Samsung tidak ada tandingannya. HP inilah segala-galanya dari semua jenis HP.

Apa saja ciri-ciri ponsel pintar masa depan?
Setelah personifikasi yang berhubungan dengan yang Maha Kuasa, kemudian digunakanlah personifikasi yang berhubungan dengan ciptaannya yaitu manusia. Kata “ponsel pintar” merupakan gambaran otak manusia. Kemampuan otak merupakan hal yang paling utama untuk melakukan semua aktifitas. Orang yang pintar tentu akan cepat tanggap sehingga aktifitas yang dilakukannya akan selalu mengikuti perkembangan jaman, begitu pula untuk masa mendatang. Hal ini dapat dilihat dari kalimat-kalimat berikutnya yang menunjukkan kepintaran, yaitu memberikan informasi perkiraan cuaca, lokasi restoran pizza yang terdekat, mencari nomor kontak, sampai mengambil gambar pun bisa dilakukan denga perintah suara. Kepintaran untuk teknologi masa depan dapat ditampilkan sekarang juga dengan menampilkan asamsung Galaxy S III dalam dua warna, yaitu Pebble Blue dan Marble White.

Itulah kata-kata dan kalimat yang diwujudkan dalam teks iklan yang keseluruhannya menggunakan bahasa Indonesia. Semua kata-kata yang dirangkai dalam suatu wacana iklan untuk membujuk orang agar mau membeli produknya.

BLACK BERRY
Kata-kata yang digunakan untuk menonjolkan kehebatan dan untuk menarik pembeli dengan menggunakan kata-kata berbahasa Inggris. Tidak ada satu pun yang berbahasa Indonesia. Produk ini merasa produknya merupakan produk yang sudah terkenal di selusuh dunia. Jadi tidak perlu lagi menggunakan bahasa di mana produk tersebut diiklankan. Jadi kata-kata yang digunakan adalah bahasa Internasional. Walaupun berbahasa Inggris, tetapi kata yang dipilih adalah kata-kata yang cukup dimengerti oleh semua orang, antara lain: SMART PHONE, EXCLUSIVE ELEGANCE. Tidak memerlukan keterangan yang panjang lebar seperti Samsung, tetapi HP ini dapat mendominasi merk-merk HP yang lain.

CROSS
Kata-kata yang digunakan untuk menonjolkan kehebatan dan menarik pembeli adalah kata-kata yang sebagian besar berbahasa Inggris. Bahasa Indonesia hanya sedikit digunakan dan itu pun merupakan penerjemahan. Berarti merk ini seperti Black Berry, namun belum setarafnya. Sehingga untuk menembus pasaran di suatu negara perlu sedikit menggunakan bahasa resmi negara tersebut agar lebih jelas dan lebih meyakinkan tentang kualitas dari merk tersebut. Kata-kata itu antara lain: WORLD CLASS QUALITY ACHIEVMENT dan CERTIFICATE of PERFORMANCE.

NOKIA
Kata-kata yang digunakan untuk menonjolkan kehebatan dan menarik pembeli menggunakan kata-kata campuran. Jumlah kata-kata yang berbahasa Inggris sama dengan yang berbahasa Indonesia. Yang berbahasa Inggris, YOUR LIVE IN THE BIGGER SCREEN, dan The New Nokia Lumia 900, Beautifully Different. Kata-kata ini pun cukup menarik perhatian orang. Kata-kata yang berbahasa Indonesia bukan merupakan terjemahan dari kata-kata bahasa Inggrisnya.

SONY
Dengan kata daya tariknya “ Tangkap banyak hadiah dan diskon dari ponsel superhero”. Juga dengan menampilkan 4 model. Merk ini menggunakan bahasa Indonesia hampir secara keseluruhan. Dan ini kemungkinan untuk menjangkau kelas bawah, mengingat harga yang dipasang seharga Rp 500.000

MOTOROLA
Untuk menarik pembeli sebagian besar kata-katanya menggunakan bahasa Indonesia. Harga yang ditawarkan Rp 1,999,000 dan Rp 2,888,000. Harga ini sepertinya ditujukan pada kelas menengah. Yang diharapkan tentu saja bias menjangkau semua kelas, mengingat sekarang ini orang mempunyai hand phone lebih dari satu.

BlackBerry
Tampil lagi dengan sebagian besar menggunakan kata-kata berbahasa Indonesia dengan menunjukkan model dan harga yang beragam: Rp.5,799,000 Rp,2,999,000 Rp,3,399,000 Rp,2,499,000. Hal ini menunjukkan bahwa merk ini juga ingin merebut pembeli yang sebanyak-banyaknya dari Negara Indonesia. Tadinya hanya menggunakan bahasa Inggris namun persaingan dalam periklanan sangat ketat untuk merebut pembeli.

H T C
Semua kata-katanya menggunakan bahasa Inggris. Merk ini bersaing keras dengan Blackberry, namun juga disertai gambar berbagai bentuk dan harganya yang mendapatkan perubahan. Harga-harga itu antara lain: Rp 5.499.000 menjadi Rp 4.999.000 Rp 3.999.000 menjadi Rp3.499.000
Rp 1.999.000 menjadi Rp 1.499.000. Dan ada yang boleh dicicil karena harganya agak mahal, yaitu Rp 6.599.000 dengan cicilan Rp 549.917 x12
Rp 2.999.000 dengan cicilan Rp 249.917 x 12. Inilah cara merk ini mengunggulkan produknya.

Blueberry
Produk baru agar dilirik pembeli menggunakan merk yang mirip dengan Blackberry. Harganyapun murah dan mendapatkan diskon, yaitu: Rp 349.000 menjadi Rp 249.000 Rp 499.000 menjadi Rp 369.000 serta disertai gambar artis terkenal Agnes Monika. Bisnis handphone benar-benar menhadapi persaingan ketat lewat iklan.

2. Interpretasi
Teks iklan seperti iklan HP yang diproduksi oleh masing-masing merk menunjukkan ideologi yaitu mencari keuntungan sebanyak-banyaknya melalui persaingan untuk merebut pasaran. Walaupun terjadi persaingan namun tidak ada kata-kata untuk menjatuhkan merk lain . Mereka menggunakan kata-kata untuk menonjolkan diri sendiri serta kata-kata untuk menarik orang lain agar tertarik untuk membeli produknya.
Dengan membaca kata-kata yang mereka pampangkan, maka harapannya adalah untuk mendapatkan pembeli sebanyak mungkin. Orang yang tadinya tidak tahu, dengan membaca koran yang berisikan iklan HP, menjadi tahu dan berkeinginan untuk membelinya. Sekarang ini, anak kecil pun sudah tahu HP sehingga iklan HP yang ada di koran dapat memicu anak untuk memiliki HP tersebut.

PENUTUP
Berdasarkan analisa di atas maka dapat disimpulkan bahwa iklan HP merupakan wacana persuasif. Iklan tersebut menggunakan bahasa yang padat, lugas dan singkat. Kejelasan dan bahasa yang menarik akan menentukan keberhasilan maksud iklan tersebut.
Ideologi dalam teks iklan HP merupakan bentuk ideologi kapitalisme informasi. Unsur persuasi dalam iklan tersebut jelas kelihatan sehingga bisa menarik semua kalangan bahkan anak-anak kecil pun ikut tertarik (walaupun belum bisa membaca, tetapi melihat gambarnya).
Analisis wacana kritis dapat menjadi mediasi pengungkapan proses interpretasi yang ada dalam teks.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan ((Tim Redaksi, 2002) Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional dan Balai Pustaka

Darma Yoce Allah 2009. Analisis Wacana Kritis. Bandung Yrama Widya
Djajasudarma, Fatimah 1994. Wacana, Bandung PT . Emesco
Fairclough, Norman 1995.Critical Discourse Analysis : the critical study of language. New york Longman Group Limited

Fairclough, N. (1998). Discourse representation in media discource, Sosiolinguistics. Cambridge : Polity Press.

Fairclough, N. (1992) Discource and Social Change, Cambride: Polity Press
IDEOLOGI DALAM TEKS IKLAN HAND PHONE

“BERBAGAI MERK HP”

(Suatu Kajian Wacana Kritis)

1. Pendahuluan

A. Latar Belakang
Bahasa adalah alat komunikasi penting yang digunakan untuk berinteraksi antar individu. Akan lebih bermakna apabila bahasa dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh para penuturnya. Dalam penuturannya, penutur dapat menafsirkan sesuatu yang disampaikan oleh penutur bahasa yang lain dengan penafsiran berbeda. Dalam hal ini para pengguna bahasa harus memahami isi wacana dengan baik, agar pesan dalam wacana dapat diterima dan tidak menimbulkan salah penafsiran.
Wacana adalah bentuk komunikasi tertulis di mana penulis dapat mengekspresikan ide , tujuan, masalah dan lain-lannya. Norman Fairclough, memandang bahwa pemahaman terhadap wacana selama ini lebih banyak didominasi oleh paradigma deskriptif yang bersifat nonkritis sehingga masih banyak dimensi kewacanaan yang belum terkuak dari pandangan tersebut. Fenomena wacana semata-mata dipandang sebagai unit linguistic yang lebih besar daripada klausa dan kalimat. Wacana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya), paragraph, kalimat atau kata yang membawa amanat lengkap.
Berdasarkan medianya wacana dibagi dalam bentuk lisan dan tertulis. Wacana dengan media komunikasi tertulis dapat diwujudkan dengan: (1) sebuah teks yang dibentuk oleh lebih dari satu alinea yang mengungkapkan sesuatu secara beruntun dan utuh, (2) sebuah alinea merupakan wacana, apabila teks hanya terdiri atas sebuah alinea dapat dianggap sebagai satu kesatuan situasi yang utuh. (3) sebuah wacana mungkin dapat dibentuk oleh sebuah kalimat majemuk dengan subordinasi dan koordinasi atau system ellipsis (Djadasudarma, 1994; 8). Jadi wacana tulis dapat diartikan sebagai wacana yang disampaikan dengan bahasa tulis atau media tulis. Dalam wacana ini terjadi komunikasi secara tidak langsung antara penulis dengan pembaca. Wacana-wacana yang berasal dari media, seperti surat kabar maupun majalah dapat dikaji baik dari segi tata bahasanya maupun dari segi koteksnya. Wacana-wacana dalam teks media yang menggunakan bahasa jurnalistik mempunyai keunikan tersendiri dan menarik untuk dikaji.
Salah satu wacana yang terdapat dalam media cetak adalah iklan, yang dapat dilihat dimana-mana dan salah satunya melalui koran. Teks iklan berbeda dengan teks lainnya. Iklan menggunakan bahasa-bahasa yang dapat digunakan untuk mempengaruhi seseorang agar mau menggunakan produk-produknya. Dengan menggunakan analisis wacana kita dapat mengetahui ideologi seseorang dalam teks tersebut.
Berdasarkan pemikiran tersebut, fenomena bahasa yang terdapat dalam teks sangatlah penting untuk dikaji, khususnya bagi para ahli bahasa karena teks yang dibuat tidak semata-mata bersifat alamiah, melainkan terkandung suatu ideologi yang mendasarinya. Oleh karena itu, salah satu cara untuk mengungkapkannya adalah dengan melakukan pengkajian yang bersifat kritis. Berdasarkan ketertarikan bahasa iklan tersebut maka dalam penelitian ini akan dibahas tentang “Iklan HP” yang terdapat dalam Koran Kompas.

B. Masalah
Yang menjadi masalah utama dalam penelitian ini adalah ideology dalam teks iklan HP yang terdapat dalam koran Kompas. Masalah tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut : Bagaimanakah ideologi dalam teks “iklan HP” yang terdapat dalam Koran Kompas?

C. Tujuan Penelitian
Untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang ideologi dalam teks iklan dan pengaruhnya terhadap praktik wacana dan publik.

II.KAJIAN TEORITIS

A. Ideologi
Kata ideologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu idea yang berarti gagasan, dan lugas yang berarti ilmu. Secara harafiah ideology berarti ilmu tentang ide-ide sesuai dengan perkembangan zaman, ilmu dan pengetahuan.
Teori-teori klasik tentang ideologi diantaranya mengatakan bahwa ideologi dibangun oleh kelompok yang dominan dengan tujuan untuk memproduksi dan melegitimasi dominasi mereka. Salah satu strategi utamanya adalah dengan membuat kesadaran kepada khalayak bahwa dominasi itu diterima secara taken for granted. Wacana dalam pendekatan semacam ini dipandang sebagai medium di mana kelompok yang dominan mempersuasi dan mengkonsumsikan kepada khalayak produksi produksi kekuasaan dan dominan yang mereka miliki, sehingga tampak absah dan benar sesuai dengan apa yang dikatakan van Djik (1998: 25). “Discourse in this approach essentially serves as the medium by which ideologies are permasive communicated in societies, and there by helps reproduce power and domination of specific group or classes” Ideologi dari kelompok dominan hanya efektif jika didasarkan pada kenyataan bahwa anggota komunikasi termasuk yang didominasi menganggap hal tersebut sebagai kebenaran dan kewajaran.
Dengan pandangan semacam ini, wacana dipahami sebagai sesuatu yang tidak netral dan berlangsung secara tidak alamiah, karena dalam setiap wacana selalu terkandung ideologi untuk mendominasi dan berebut pengaruh.
Faircloug (dalam Philips dan Jorgensen, 2002: 75) menjelaskan bahwa ideologi merupakan makna yang melayani kekuasaan. Lebih tepatnya, dia memahami bahwa ideologi sebagai pengkonstruksian makna yang memberikan kontribusi bagi pemproduksian, pereproduksian, dan transformasi hubungan-hubungan dominasi.
Fairclough Jorgensen and Philips (2002: 76) menjelaskan bahwa subjek diposisikan secara ideologis, tapi subjek diposisikan secara ideologis, tapi subjek juga mampu bertindak secara kreatif untuk menciptakan hubungan-hubungan antara praktik-praktik dan ideologi-ideologi yang beragam tempat dipajankannya subjek tersebut dan menata kembali praktik dan struktur itu.

B. Iklan
Menurut Alwi (2002: 421) iklan adalah berita pesanan untuk mendo-rong, membujuk khalayak agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan. Berita pesana tersebut dapat berupa teks, gambar, walau verbal dengan menggunakan media Surat Kabar (koran), televisi, radio dan yang lainnya. Senada dengan pendapat di atas, Walter (2008: 21) mengatakan bahwa iklan adalah sebuah gambar, film yang pendek, lagu dan lain-lain yang mencoba membujuk orang untuk membeli produk atau jasa.
Kasali (1992:9 mengatakan bahwa iklan adalah bauran promosi (pro-motion mix ) dan bauran promosi adalah bagian dari bauran pemasaran (marketing mix). Secara sederhana, iklan diartikan sebagai pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat lewat suatu media.
Dari pendapat-pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa iklan sengaja dibuat untuk mendorong, mempengaruhi, meyakinkan orang agar membeli produk atau jasa yang ditawarkan.

C. Analisis Wacana Kritis
Analisis Wacana Kritis menyediakan teori dan metode yang bisa digunakan untuk melakukan kajian empiris tentang hubungan-hubungan antara wacana dan perkembangan sosial dan kultural dalam domain-domain sosial yang berbeda.
Analisis Norman Fairclough didasarkan pada pertanyaan besar, bagaimana menghubungkan teks yang makro. Fairclough berusaha membangun suatu model analisis wacana yang mempunyai kontribusi dalam analisis sosial dan budaya, sehingga ia mengkombinasikan tradisi analisis tekstual yang selalu melihat bahwa dalam ruang tertutup dengan konteks masyarakat yang lebih luas. Titik perhatian Fairclough adalah melihat bagaimana pemakai bahasa membawa nilai ideologi tertentu. Dalam hal ini dibutuhkan analisis secara menyeluruh.Bahasa secara sosial dan kritis adalah bentuk tindakan, dalam hubungan dialektik dengan struktur sosial. Oleh karena itu, analisis harus dipisahkan pada bagian bahasa terbentuk dan dibentuk dari relasi sosial dan konteks sosial tertentu (Fairclough, 1998: 131-132).
Fairclouhg membuat suatu model yang mengintegrasikan secara bersama-sama analisis wacana yang didasarkan pada linguistik, permasalahan-permasalahan sosial dan politik, dan secara umum diintregasikan pada perubahan sosial. Oleh karena itu, model yng dikemukakan oleh Fairclough ini sering disebut juga model perubahan sosial (social change). Fairclough memusatkan perhatian wacana pada bahasa. Fairclough menggunakan wacana menunjuk pada pemakaian bahasa sebagai praktik sosial, lebih daripada individu atau merefleksikan sesuatu. Bahasa sebagain praktik sosial mengandung implikasi. Pertama, wacana adalah bentuk dari tindakan, seseorang menggunakan bahasa sebagai suatu tindakan pada dunia dan khususnya sebagai bentuk individu.Kedua, model ini mengimplikasikan adanya hubungan timbal balik antara wacana dan struktur sosial.Dalam hal ini, wacana terbagi oleh stuktur sosial, kelas, dan relasi sosial lain yang dihubungkan dengan relasi spesifik dari institusi tertentu seperti pada buku, pendidikan, sosial, dan klasifikasi (Fairclough, 1992: 63-64).
Philips dan Jorgensen menjelaskan bahwa model 3 dimensi Fairclough sebagai analisis wacana kritis disebabkan oleh setiap peristiwa yang menggunakan bahasa merupakan peristiwa komunikatif yang terdiri atas tiga dimensi, yaitu (a) teks (tuturan,pencitraan visual), (b) praktik wacana yang melibatkan pemroduksian dan pengkonsumsian teks, (c) praktik sosial.

III. METODE PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ideologi dalam teks iklan melalui kajian analisis wacana kritis. Fokus penelitian ini adalah teks iklan HP dari berbagai merk yang terdapat dalam Koran Kompas.
Metode penelitian yang digunakan adalah model tiga dimensi Fairclough yang digambarkan sebagai berikut:

(Norman Fairclough, Critical discourse Analysis: the Critical Study of language) (New York: Longman Group Limited, 1995) p.98)

Keterangan:
1. Deskripsi (analisis teks) adalah bentuk dan isi teks. Analisis tersebut adalah analisis fonologi, tatabahasa, kosakata, semantik, juga aspek supra-sentensial organisasi tekstual, seperti kohesi, pengambilan giliran dalam bercakap-cakap.
2. Interpreasi (praktik wacana) adalah hubungan antara teks dan praktik sosial. Praktik wacana berkaitan dengan aspek sosiokognitif produksi dan interpretasi teks
3. Ekspanasi (praktik sosial) berhubungan dengan berbagai tataran organisasi sosial yang berbeda-beda: situasi, konteks institusional, konteks sosial atau kelompok yang lebih luas; dalam hal ini permasalahan kekuasaan menjadi tema pokok.

IV. PEMBAHASAN
1. Deskripsi
Teks yang dideskripsikan merupakan teks iklan HP dari berbagai merk yang terdapat dalam Koran Kompas. Masing-masing merk memperlihatkan keunggulannya dengan bahasa-bahasa yang menunjukkan kehebatan-kehebatannya
Marilah kita lihat kata-kata dari masing-masing HP:
Sang “Penguasa Galaksi”
Apa saja ciri-ciri ponsel pintar masa depan?
Ini pertanyaan yang cukup sulit. Namun, sedikit bocoran, ponsel pintar pada masa depan seharusnya mampu mengambil obyek gambar bergerak secara cepat hingga puluhan foto sekaligus.Ponsel tersebut pun seharusnya mampu tetap memutar video sembari memeriksa e-mail atau SMS dalam tampilan PIP (picture-in-picture)

Hanya itu? Tentu saja tidak. Ponsel tersebut juga seharusnya memiliki layar tetap menyala selama anda masih menatapnya. Berbagai informasi seperti perkiraan cuaca mingguan, lokasi restoran pizza terdekat, mencari nomor kontak, hingga mengambil gambar pun seharusnya sudah bisa dilakukan hanya dengan perin tah suara. Ponsel tersebut juga seharusnya sudah mampu mengirim berbagai konten, seperti video, lagu, gambar, atau dokumen hanya dengan mendekatkan ponsel satu dengan lainnya.
Ya, kira-kira seperti itulah gambaran ponsel pintar pada masa depan. Namun, kapan ponsel tersebut bisa kita nikmati secara langsung? Tahun depan? Atau, mungkin lima tahun lagi? Tenang, kita tak perlu lama menunggu karena Samsung menghadirkan teknologi masa depan tersebut sekarang juga.
Wajar rasanya jika Samsung dinobatkan sebagai “penguasa galaksi”. Maklum, berbagai produk seri Galaxy yang diluncurkannya termasuk laris manis di pasaran. Seiring dengan kesuksesan ponsel seri Galaksi, Samsung kembali melakukan terobosan melalui ponsel yang layak disebut ponsel premium impian, yaitu Samsung Galaxy S III.
Samsung S III khusus didesain sebagai smartphone that understsand you dan diluncurkan dalam dua warna, yaitu Pebble Blue dan Marble White (Kompas, Jumat, 15 Juni 2012).

PORSCHE DESIGN Blackberry

PORSCHE DESIGN
SMARTPHONE P’9981
EXCLUSIVE ELEGANCE
Timeless style by Porsche Design meets state-of-the-art- technology by BlackBerry: the exlusive P’9981 smartphone. For all who make decisions with style (Kompas, Jumat, 15 Juni 2012)

CROSS MOBILE
IT’S YOUR PRIDE

CONGRATULATIONS TO CROSS Mobile Phone
As Indonesia’s best mobile phone brand by
achieving

WORLD CLASS QUALITY ACHIEVEMENT
5-STAR QUALITY PRODUCT IN 2012
and
CERTIFICATE OF PERFORMANCE
5-STAR QUALITY PRODUCT IN 2012

GCSS is certification conducted by MARS Indonesia as the exlusive lisence holder of the American Customer Satisfaction Index (ACSI) in Indonesia. The survey is assessing the customer satisfaction with product quality and brand of telecomunications services in Indonesia and also the brand position in the midst of global competition. The survey was conducted upon 5 major brands of mobile phone in Indonesia and taken in major cities all around Indonesia.
GCSS adalah setifikat yang dikeluarkan oleh MARS Indonesia sebagai pemegang lisensi eksklusife American Customer Satisfaction Index (ACSI) di Indonesia dan juga posisi brand di tengah persaingan global. Survey dilakukan kepada 5 top brand handphone dan dilaksanakan di kota-kota besar di Indonesia (Kompas, Jumat, 15 Juni 2012).

NOKIA LUMIA 900 indosat

YOUR LIFE IN THE BIGGER SCREEN
Cek email, browsing, update sosial media hingga video call di Live Tiles dengan display yang lebih besar. Kini semua tampak lebih jelas dan lebih detail dengan display 4,3 inchi

The New Nokia Lumia 900, Beautifully Different.
(Kompas, Jumat, 15 Juni 2012)

SONY Tangkap banyak hadiah dan diskon dari ponsel superhero
Make-believe
Ada 4 macam bentuknya: X peria S X peria P X peria Sola X peria U
(Kompas, Jumat, 22 Juni 2012)

MOTOROLA

SIAP HADAPI APAPUN YANG

AKAN ANDA TEMUI DALAM HIDUP

Datang dadakan ke pesta di pantai dengan sobat-sobatmu?
Dengan ponsel Motorola seri Defy yang tahan air, debu dan gores, kamu pun selalu siap untuk seru-seruan kapan pun, di mana pun!

MOTOROLA DEFY SERIES
Smartphone Sesungguhnya.
(Kompas, Senin, 25 Juni 2012)

BlackBerry
Tampil dengan beberapa model dan harga-harganya
(Kompas, Jumat, 29 Juni 2012)

H T C
Amazing Phone Fantastic Offer!
+ 0 % instalment
(Kompas,Jumat, 29 Juni 2012)

Blueberry
Tampil dengan harga-harga dari Rp.349.000 menjadi Rp.249.000
Rp.499.000 menjadi Rp.369.000
Dengan penampilan artis terkenal Agnes Monika
(Kompas, Jumat 25 Juni 2012)

Sekarang marilah kita tinjau satu persatu

SAMSUNG
SANG “ PENGUASA GALAKSI “ Kata yang menggunakan bentuk personifikasi untuk menonjolkan SANG PENGUASA merupakan julukan untuk Pencipta alam yang menguasai alam dan tidak ada yang mampu menandinginya. Ini berarti HP Samsung tidak ada tandingannya. HP inilah segala-galanya dari semua jenis HP.

Apa saja ciri-ciri ponsel pintar masa depan?
Setelah personifikasi yang berhubungan dengan yang Maha Kuasa, kemudian digunakanlah personifikasi yang berhubungan dengan ciptaannya yaitu manusia. Kata “ponsel pintar” merupakan gambaran otak manusia. Kemampuan otak merupakan hal yang paling utama untuk melakukan semua aktifitas. Orang yang pintar tentu akan cepat tanggap sehingga aktifitas yang dilakukannya akan selalu mengikuti perkembangan jaman, begitu pula untuk masa mendatang. Hal ini dapat dilihat dari kalimat-kalimat berikutnya yang menunjukkan kepintaran, yaitu memberikan informasi perkiraan cuaca, lokasi restoran pizza yang terdekat, mencari nomor kontak, sampai mengambil gambar pun bisa dilakukan denga perintah suara. Kepintaran untuk teknologi masa depan dapat ditampilkan sekarang juga dengan menampilkan asamsung Galaxy S III dalam dua warna, yaitu Pebble Blue dan Marble White.

Itulah kata-kata dan kalimat yang diwujudkan dalam teks iklan yang keseluruhannya menggunakan bahasa Indonesia. Semua kata-kata yang dirangkai dalam suatu wacana iklan untuk membujuk orang agar mau membeli produknya.

BLACK BERRY
Kata-kata yang digunakan untuk menonjolkan kehebatan dan untuk menarik pembeli dengan menggunakan kata-kata berbahasa Inggris. Tidak ada satu pun yang berbahasa Indonesia. Produk ini merasa produknya merupakan produk yang sudah terkenal di selusuh dunia. Jadi tidak perlu lagi menggunakan bahasa di mana produk tersebut diiklankan. Jadi kata-kata yang digunakan adalah bahasa Internasional. Walaupun berbahasa Inggris, tetapi kata yang dipilih adalah kata-kata yang cukup dimengerti oleh semua orang, antara lain: SMART PHONE, EXCLUSIVE ELEGANCE. Tidak memerlukan keterangan yang panjang lebar seperti Samsung, tetapi HP ini dapat mendominasi merk-merk HP yang lain.

CROSS
Kata-kata yang digunakan untuk menonjolkan kehebatan dan menarik pembeli adalah kata-kata yang sebagian besar berbahasa Inggris. Bahasa Indonesia hanya sedikit digunakan dan itu pun merupakan penerjemahan. Berarti merk ini seperti Black Berry, namun belum setarafnya. Sehingga untuk menembus pasaran di suatu negara perlu sedikit menggunakan bahasa resmi negara tersebut agar lebih jelas dan lebih meyakinkan tentang kualitas dari merk tersebut. Kata-kata itu antara lain: WORLD CLASS QUALITY ACHIEVMENT dan CERTIFICATE of PERFORMANCE.

NOKIA
Kata-kata yang digunakan untuk menonjolkan kehebatan dan menarik pembeli menggunakan kata-kata campuran. Jumlah kata-kata yang berbahasa Inggris sama dengan yang berbahasa Indonesia. Yang berbahasa Inggris, YOUR LIVE IN THE BIGGER SCREEN, dan The New Nokia Lumia 900, Beautifully Different. Kata-kata ini pun cukup menarik perhatian orang. Kata-kata yang berbahasa Indonesia bukan merupakan terjemahan dari kata-kata bahasa Inggrisnya.

SONY
Dengan kata daya tariknya “ Tangkap banyak hadiah dan diskon dari ponsel superhero”. Juga dengan menampilkan 4 model. Merk ini menggunakan bahasa Indonesia hampir secara keseluruhan. Dan ini kemungkinan untuk menjangkau kelas bawah, mengingat harga yang dipasang seharga Rp 500.000

MOTOROLA
Untuk menarik pembeli sebagian besar kata-katanya menggunakan bahasa Indonesia. Harga yang ditawarkan Rp 1,999,000 dan Rp 2,888,000. Harga ini sepertinya ditujukan pada kelas menengah. Yang diharapkan tentu saja bias menjangkau semua kelas, mengingat sekarang ini orang mempunyai hand phone lebih dari satu.

BlackBerry
Tampil lagi dengan sebagian besar menggunakan kata-kata berbahasa Indonesia dengan menunjukkan model dan harga yang beragam: Rp.5,799,000 Rp,2,999,000 Rp,3,399,000 Rp,2,499,000. Hal ini menunjukkan bahwa merk ini juga ingin merebut pembeli yang sebanyak-banyaknya dari Negara Indonesia. Tadinya hanya menggunakan bahasa Inggris namun persaingan dalam periklanan sangat ketat untuk merebut pembeli.

H T C
Semua kata-katanya menggunakan bahasa Inggris. Merk ini bersaing keras dengan Blackberry, namun juga disertai gambar berbagai bentuk dan harganya yang mendapatkan perubahan. Harga-harga itu antara lain: Rp 5.499.000 menjadi Rp 4.999.000 Rp 3.999.000 menjadi Rp3.499.000
Rp 1.999.000 menjadi Rp 1.499.000. Dan ada yang boleh dicicil karena harganya agak mahal, yaitu Rp 6.599.000 dengan cicilan Rp 549.917 x12
Rp 2.999.000 dengan cicilan Rp 249.917 x 12. Inilah cara merk ini mengunggulkan produknya.

Blueberry
Produk baru agar dilirik pembeli menggunakan merk yang mirip dengan Blackberry. Harganyapun murah dan mendapatkan diskon, yaitu: Rp 349.000 menjadi Rp 249.000 Rp 499.000 menjadi Rp 369.000 serta disertai gambar artis terkenal Agnes Monika. Bisnis handphone benar-benar menhadapi persaingan ketat lewat iklan.

2. Interpretasi
Teks iklan seperti iklan HP yang diproduksi oleh masing-masing merk menunjukkan ideologi yaitu mencari keuntungan sebanyak-banyaknya melalui persaingan untuk merebut pasaran. Walaupun terjadi persaingan namun tidak ada kata-kata untuk menjatuhkan merk lain . Mereka menggunakan kata-kata untuk menonjolkan diri sendiri serta kata-kata untuk menarik orang lain agar tertarik untuk membeli produknya.
Dengan membaca kata-kata yang mereka pampangkan, maka harapannya adalah untuk mendapatkan pembeli sebanyak mungkin. Orang yang tadinya tidak tahu, dengan membaca koran yang berisikan iklan HP, menjadi tahu dan berkeinginan untuk membelinya. Sekarang ini, anak kecil pun sudah tahu HP sehingga iklan HP yang ada di koran dapat memicu anak untuk memiliki HP tersebut.

PENUTUP
Berdasarkan analisa di atas maka dapat disimpulkan bahwa iklan HP merupakan wacana persuasif. Iklan tersebut menggunakan bahasa yang padat, lugas dan singkat. Kejelasan dan bahasa yang menarik akan menentukan keberhasilan maksud iklan tersebut.
Ideologi dalam teks iklan HP merupakan bentuk ideologi kapitalisme informasi. Unsur persuasi dalam iklan tersebut jelas kelihatan sehingga bisa menarik semua kalangan bahkan anak-anak kecil pun ikut tertarik (walaupun belum bisa membaca, tetapi melihat gambarnya).
Analisis wacana kritis dapat menjadi mediasi pengungkapan proses interpretasi yang ada dalam teks.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan ((Tim Redaksi, 2002) Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional dan Balai Pustaka

Darma Yoce Allah 2009. Analisis Wacana Kritis. Bandung Yrama Widya
Djajasudarma, Fatimah 1994. Wacana, Bandung PT . Emesco
Fairclough, Norman 1995.Critical Discourse Analysis : the critical study of language. New york Longman Group Limited

Fairclough, N. (1998). Discourse representation in media discource, Sosiolinguistics. Cambridge : Polity Press.

Fairclough, N. (1992) Discource and Social Change, Cambride: Polity Press

Fairclough, Norman 2003. Analysis Discource. New York Routledge

Kasali, Rheinhal 1992. Manajemen Periklanan (Konsep dan Aplikasinya di Indonesia). Jakarta PT. Pustaka Utama Grafiti

Philips, Lourse & Jorgensen, Naranne 2002. Discource Analysis as Theory and Method. London : Sage Publications

Thompson, John B. 2006. Kritik Ideologi : Teori Sosial Kritis tentang Relasi Ideologi dan Komunikasi Massa, Yogyakarta IRCIOD.

Van Dijk, T (1998) Ideology: a Multidisciplinary Approach, London: Sage.

Walter, Elisabeth (Editorial Team) 2008. Cambridge Advance Leaner’s Dictionary. Cambridge : Cambridge University Press

IDEOLOGI DALAM TEKS IKLAN HAND PHONE

“BERBAGAI MERK HP”

(Suatu Kajian Wacana Kritis)

1. Pendahuluan

A. Latar Belakang
Bahasa adalah alat komunikasi penting yang digunakan untuk berinteraksi antar individu. Akan lebih bermakna apabila bahasa dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh para penuturnya. Dalam penuturannya, penutur dapat menafsirkan sesuatu yang disampaikan oleh penutur bahasa yang lain dengan penafsiran berbeda. Dalam hal ini para pengguna bahasa harus memahami isi wacana dengan baik, agar pesan dalam wacana dapat diterima dan tidak menimbulkan salah penafsiran.
Wacana adalah bentuk komunikasi tertulis di mana penulis dapat mengekspresikan ide , tujuan, masalah dan lain-lannya. Norman Fairclough, memandang bahwa pemahaman terhadap wacana selama ini lebih banyak didominasi oleh paradigma deskriptif yang bersifat nonkritis sehingga masih banyak dimensi kewacanaan yang belum terkuak dari pandangan tersebut. Fenomena wacana semata-mata dipandang sebagai unit linguistic yang lebih besar daripada klausa dan kalimat. Wacana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya), paragraph, kalimat atau kata yang membawa amanat lengkap.
Berdasarkan medianya wacana dibagi dalam bentuk lisan dan tertulis. Wacana dengan media komunikasi tertulis dapat diwujudkan dengan: (1) sebuah teks yang dibentuk oleh lebih dari satu alinea yang mengungkapkan sesuatu secara beruntun dan utuh, (2) sebuah alinea merupakan wacana, apabila teks hanya terdiri atas sebuah alinea dapat dianggap sebagai satu kesatuan situasi yang utuh. (3) sebuah wacana mungkin dapat dibentuk oleh sebuah kalimat majemuk dengan subordinasi dan koordinasi atau system ellipsis (Djadasudarma, 1994; 8). Jadi wacana tulis dapat diartikan sebagai wacana yang disampaikan dengan bahasa tulis atau media tulis. Dalam wacana ini terjadi komunikasi secara tidak langsung antara penulis dengan pembaca. Wacana-wacana yang berasal dari media, seperti surat kabar maupun majalah dapat dikaji baik dari segi tata bahasanya maupun dari segi koteksnya. Wacana-wacana dalam teks media yang menggunakan bahasa jurnalistik mempunyai keunikan tersendiri dan menarik untuk dikaji.
Salah satu wacana yang terdapat dalam media cetak adalah iklan, yang dapat dilihat dimana-mana dan salah satunya melalui koran. Teks iklan berbeda dengan teks lainnya. Iklan menggunakan bahasa-bahasa yang dapat digunakan untuk mempengaruhi seseorang agar mau menggunakan produk-produknya. Dengan menggunakan analisis wacana kita dapat mengetahui ideologi seseorang dalam teks tersebut.
Berdasarkan pemikiran tersebut, fenomena bahasa yang terdapat dalam teks sangatlah penting untuk dikaji, khususnya bagi para ahli bahasa karena teks yang dibuat tidak semata-mata bersifat alamiah, melainkan terkandung suatu ideologi yang mendasarinya. Oleh karena itu, salah satu cara untuk mengungkapkannya adalah dengan melakukan pengkajian yang bersifat kritis. Berdasarkan ketertarikan bahasa iklan tersebut maka dalam penelitian ini akan dibahas tentang “Iklan HP” yang terdapat dalam Koran Kompas.

B. Masalah
Yang menjadi masalah utama dalam penelitian ini adalah ideology dalam teks iklan HP yang terdapat dalam koran Kompas. Masalah tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut : Bagaimanakah ideologi dalam teks “iklan HP” yang terdapat dalam Koran Kompas?

C. Tujuan Penelitian
Untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang ideologi dalam teks iklan dan pengaruhnya terhadap praktik wacana dan publik.

II.KAJIAN TEORITIS

A. Ideologi
Kata ideologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu idea yang berarti gagasan, dan lugas yang berarti ilmu. Secara harafiah ideology berarti ilmu tentang ide-ide sesuai dengan perkembangan zaman, ilmu dan pengetahuan.
Teori-teori klasik tentang ideologi diantaranya mengatakan bahwa ideologi dibangun oleh kelompok yang dominan dengan tujuan untuk memproduksi dan melegitimasi dominasi mereka. Salah satu strategi utamanya adalah dengan membuat kesadaran kepada khalayak bahwa dominasi itu diterima secara taken for granted. Wacana dalam pendekatan semacam ini dipandang sebagai medium di mana kelompok yang dominan mempersuasi dan mengkonsumsikan kepada khalayak produksi produksi kekuasaan dan dominan yang mereka miliki, sehingga tampak absah dan benar sesuai dengan apa yang dikatakan van Djik (1998: 25). “Discourse in this approach essentially serves as the medium by which ideologies are permasive communicated in societies, and there by helps reproduce power and domination of specific group or classes” Ideologi dari kelompok dominan hanya efektif jika didasarkan pada kenyataan bahwa anggota komunikasi termasuk yang didominasi menganggap hal tersebut sebagai kebenaran dan kewajaran.
Dengan pandangan semacam ini, wacana dipahami sebagai sesuatu yang tidak netral dan berlangsung secara tidak alamiah, karena dalam setiap wacana selalu terkandung ideologi untuk mendominasi dan berebut pengaruh.
Faircloug (dalam Philips dan Jorgensen, 2002: 75) menjelaskan bahwa ideologi merupakan makna yang melayani kekuasaan. Lebih tepatnya, dia memahami bahwa ideologi sebagai pengkonstruksian makna yang memberikan kontribusi bagi pemproduksian, pereproduksian, dan transformasi hubungan-hubungan dominasi.
Fairclough Jorgensen and Philips (2002: 76) menjelaskan bahwa subjek diposisikan secara ideologis, tapi subjek diposisikan secara ideologis, tapi subjek juga mampu bertindak secara kreatif untuk menciptakan hubungan-hubungan antara praktik-praktik dan ideologi-ideologi yang beragam tempat dipajankannya subjek tersebut dan menata kembali praktik dan struktur itu.

B. Iklan
Menurut Alwi (2002: 421) iklan adalah berita pesanan untuk mendo-rong, membujuk khalayak agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan. Berita pesana tersebut dapat berupa teks, gambar, walau verbal dengan menggunakan media Surat Kabar (koran), televisi, radio dan yang lainnya. Senada dengan pendapat di atas, Walter (2008: 21) mengatakan bahwa iklan adalah sebuah gambar, film yang pendek, lagu dan lain-lain yang mencoba membujuk orang untuk membeli produk atau jasa.
Kasali (1992:9 mengatakan bahwa iklan adalah bauran promosi (pro-motion mix ) dan bauran promosi adalah bagian dari bauran pemasaran (marketing mix). Secara sederhana, iklan diartikan sebagai pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat lewat suatu media.
Dari pendapat-pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa iklan sengaja dibuat untuk mendorong, mempengaruhi, meyakinkan orang agar membeli produk atau jasa yang ditawarkan.

C. Analisis Wacana Kritis
Analisis Wacana Kritis menyediakan teori dan metode yang bisa digunakan untuk melakukan kajian empiris tentang hubungan-hubungan antara wacana dan perkembangan sosial dan kultural dalam domain-domain sosial yang berbeda.
Analisis Norman Fairclough didasarkan pada pertanyaan besar, bagaimana menghubungkan teks yang makro. Fairclough berusaha membangun suatu model analisis wacana yang mempunyai kontribusi dalam analisis sosial dan budaya, sehingga ia mengkombinasikan tradisi analisis tekstual yang selalu melihat bahwa dalam ruang tertutup dengan konteks masyarakat yang lebih luas. Titik perhatian Fairclough adalah melihat bagaimana pemakai bahasa membawa nilai ideologi tertentu. Dalam hal ini dibutuhkan analisis secara menyeluruh.Bahasa secara sosial dan kritis adalah bentuk tindakan, dalam hubungan dialektik dengan struktur sosial. Oleh karena itu, analisis harus dipisahkan pada bagian bahasa terbentuk dan dibentuk dari relasi sosial dan konteks sosial tertentu (Fairclough, 1998: 131-132).
Fairclouhg membuat suatu model yang mengintegrasikan secara bersama-sama analisis wacana yang didasarkan pada linguistik, permasalahan-permasalahan sosial dan politik, dan secara umum diintregasikan pada perubahan sosial. Oleh karena itu, model yng dikemukakan oleh Fairclough ini sering disebut juga model perubahan sosial (social change). Fairclough memusatkan perhatian wacana pada bahasa. Fairclough menggunakan wacana menunjuk pada pemakaian bahasa sebagai praktik sosial, lebih daripada individu atau merefleksikan sesuatu. Bahasa sebagain praktik sosial mengandung implikasi. Pertama, wacana adalah bentuk dari tindakan, seseorang menggunakan bahasa sebagai suatu tindakan pada dunia dan khususnya sebagai bentuk individu.Kedua, model ini mengimplikasikan adanya hubungan timbal balik antara wacana dan struktur sosial.Dalam hal ini, wacana terbagi oleh stuktur sosial, kelas, dan relasi sosial lain yang dihubungkan dengan relasi spesifik dari institusi tertentu seperti pada buku, pendidikan, sosial, dan klasifikasi (Fairclough, 1992: 63-64).
Philips dan Jorgensen menjelaskan bahwa model 3 dimensi Fairclough sebagai analisis wacana kritis disebabkan oleh setiap peristiwa yang menggunakan bahasa merupakan peristiwa komunikatif yang terdiri atas tiga dimensi, yaitu (a) teks (tuturan,pencitraan visual), (b) praktik wacana yang melibatkan pemroduksian dan pengkonsumsian teks, (c) praktik sosial.

III. METODE PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ideologi dalam teks iklan melalui kajian analisis wacana kritis. Fokus penelitian ini adalah teks iklan HP dari berbagai merk yang terdapat dalam Koran Kompas.
Metode penelitian yang digunakan adalah model tiga dimensi Fairclough yang digambarkan sebagai berikut:

(Norman Fairclough, Critical discourse Analysis: the Critical Study of language) (New York: Longman Group Limited, 1995) p.98)

Keterangan:
1. Deskripsi (analisis teks) adalah bentuk dan isi teks. Analisis tersebut adalah analisis fonologi, tatabahasa, kosakata, semantik, juga aspek supra-sentensial organisasi tekstual, seperti kohesi, pengambilan giliran dalam bercakap-cakap.
2. Interpreasi (praktik wacana) adalah hubungan antara teks dan praktik sosial. Praktik wacana berkaitan dengan aspek sosiokognitif produksi dan interpretasi teks
3. Ekspanasi (praktik sosial) berhubungan dengan berbagai tataran organisasi sosial yang berbeda-beda: situasi, konteks institusional, konteks sosial atau kelompok yang lebih luas; dalam hal ini permasalahan kekuasaan menjadi tema pokok.

IV. PEMBAHASAN
1. Deskripsi
Teks yang dideskripsikan merupakan teks iklan HP dari berbagai merk yang terdapat dalam Koran Kompas. Masing-masing merk memperlihatkan keunggulannya dengan bahasa-bahasa yang menunjukkan kehebatan-kehebatannya
Marilah kita lihat kata-kata dari masing-masing HP:
Sang “Penguasa Galaksi”
Apa saja ciri-ciri ponsel pintar masa depan?
Ini pertanyaan yang cukup sulit. Namun, sedikit bocoran, ponsel pintar pada masa depan seharusnya mampu mengambil obyek gambar bergerak secara cepat hingga puluhan foto sekaligus.Ponsel tersebut pun seharusnya mampu tetap memutar video sembari memeriksa e-mail atau SMS dalam tampilan PIP (picture-in-picture)

Hanya itu? Tentu saja tidak. Ponsel tersebut juga seharusnya memiliki layar tetap menyala selama anda masih menatapnya. Berbagai informasi seperti perkiraan cuaca mingguan, lokasi restoran pizza terdekat, mencari nomor kontak, hingga mengambil gambar pun seharusnya sudah bisa dilakukan hanya dengan perin tah suara. Ponsel tersebut juga seharusnya sudah mampu mengirim berbagai konten, seperti video, lagu, gambar, atau dokumen hanya dengan mendekatkan ponsel satu dengan lainnya.
Ya, kira-kira seperti itulah gambaran ponsel pintar pada masa depan. Namun, kapan ponsel tersebut bisa kita nikmati secara langsung? Tahun depan? Atau, mungkin lima tahun lagi? Tenang, kita tak perlu lama menunggu karena Samsung menghadirkan teknologi masa depan tersebut sekarang juga.
Wajar rasanya jika Samsung dinobatkan sebagai “penguasa galaksi”. Maklum, berbagai produk seri Galaxy yang diluncurkannya termasuk laris manis di pasaran. Seiring dengan kesuksesan ponsel seri Galaksi, Samsung kembali melakukan terobosan melalui ponsel yang layak disebut ponsel premium impian, yaitu Samsung Galaxy S III.
Samsung S III khusus didesain sebagai smartphone that understsand you dan diluncurkan dalam dua warna, yaitu Pebble Blue dan Marble White (Kompas, Jumat, 15 Juni 2012).

PORSCHE DESIGN Blackberry

PORSCHE DESIGN
SMARTPHONE P’9981
EXCLUSIVE ELEGANCE
Timeless style by Porsche Design meets state-of-the-art- technology by BlackBerry: the exlusive P’9981 smartphone. For all who make decisions with style (Kompas, Jumat, 15 Juni 2012)

CROSS MOBILE
IT’S YOUR PRIDE

CONGRATULATIONS TO CROSS Mobile Phone
As Indonesia’s best mobile phone brand by
achieving

WORLD CLASS QUALITY ACHIEVEMENT
5-STAR QUALITY PRODUCT IN 2012
and
CERTIFICATE OF PERFORMANCE
5-STAR QUALITY PRODUCT IN 2012

GCSS is certification conducted by MARS Indonesia as the exlusive lisence holder of the American Customer Satisfaction Index (ACSI) in Indonesia. The survey is assessing the customer satisfaction with product quality and brand of telecomunications services in Indonesia and also the brand position in the midst of global competition. The survey was conducted upon 5 major brands of mobile phone in Indonesia and taken in major cities all around Indonesia.
GCSS adalah setifikat yang dikeluarkan oleh MARS Indonesia sebagai pemegang lisensi eksklusife American Customer Satisfaction Index (ACSI) di Indonesia dan juga posisi brand di tengah persaingan global. Survey dilakukan kepada 5 top brand handphone dan dilaksanakan di kota-kota besar di Indonesia (Kompas, Jumat, 15 Juni 2012).

NOKIA LUMIA 900 indosat

YOUR LIFE IN THE BIGGER SCREEN
Cek email, browsing, update sosial media hingga video call di Live Tiles dengan display yang lebih besar. Kini semua tampak lebih jelas dan lebih detail dengan display 4,3 inchi

The New Nokia Lumia 900, Beautifully Different.
(Kompas, Jumat, 15 Juni 2012)

SONY Tangkap banyak hadiah dan diskon dari ponsel superhero
Make-believe
Ada 4 macam bentuknya: X peria S X peria P X peria Sola X peria U
(Kompas, Jumat, 22 Juni 2012)

MOTOROLA

SIAP HADAPI APAPUN YANG

AKAN ANDA TEMUI DALAM HIDUP

Datang dadakan ke pesta di pantai dengan sobat-sobatmu?
Dengan ponsel Motorola seri Defy yang tahan air, debu dan gores, kamu pun selalu siap untuk seru-seruan kapan pun, di mana pun!

MOTOROLA DEFY SERIES
Smartphone Sesungguhnya.
(Kompas, Senin, 25 Juni 2012)

BlackBerry
Tampil dengan beberapa model dan harga-harganya
(Kompas, Jumat, 29 Juni 2012)

H T C
Amazing Phone Fantastic Offer!
+ 0 % instalment
(Kompas,Jumat, 29 Juni 2012)

Blueberry
Tampil dengan harga-harga dari Rp.349.000 menjadi Rp.249.000
Rp.499.000 menjadi Rp.369.000
Dengan penampilan artis terkenal Agnes Monika
(Kompas, Jumat 25 Juni 2012)

Sekarang marilah kita tinjau satu persatu

SAMSUNG
SANG “ PENGUASA GALAKSI “ Kata yang menggunakan bentuk personifikasi untuk menonjolkan SANG PENGUASA merupakan julukan untuk Pencipta alam yang menguasai alam dan tidak ada yang mampu menandinginya. Ini berarti HP Samsung tidak ada tandingannya. HP inilah segala-galanya dari semua jenis HP.

Apa saja ciri-ciri ponsel pintar masa depan?
Setelah personifikasi yang berhubungan dengan yang Maha Kuasa, kemudian digunakanlah personifikasi yang berhubungan dengan ciptaannya yaitu manusia. Kata “ponsel pintar” merupakan gambaran otak manusia. Kemampuan otak merupakan hal yang paling utama untuk melakukan semua aktifitas. Orang yang pintar tentu akan cepat tanggap sehingga aktifitas yang dilakukannya akan selalu mengikuti perkembangan jaman, begitu pula untuk masa mendatang. Hal ini dapat dilihat dari kalimat-kalimat berikutnya yang menunjukkan kepintaran, yaitu memberikan informasi perkiraan cuaca, lokasi restoran pizza yang terdekat, mencari nomor kontak, sampai mengambil gambar pun bisa dilakukan denga perintah suara. Kepintaran untuk teknologi masa depan dapat ditampilkan sekarang juga dengan menampilkan asamsung Galaxy S III dalam dua warna, yaitu Pebble Blue dan Marble White.

Itulah kata-kata dan kalimat yang diwujudkan dalam teks iklan yang keseluruhannya menggunakan bahasa Indonesia. Semua kata-kata yang dirangkai dalam suatu wacana iklan untuk membujuk orang agar mau membeli produknya.

BLACK BERRY
Kata-kata yang digunakan untuk menonjolkan kehebatan dan untuk menarik pembeli dengan menggunakan kata-kata berbahasa Inggris. Tidak ada satu pun yang berbahasa Indonesia. Produk ini merasa produknya merupakan produk yang sudah terkenal di selusuh dunia. Jadi tidak perlu lagi menggunakan bahasa di mana produk tersebut diiklankan. Jadi kata-kata yang digunakan adalah bahasa Internasional. Walaupun berbahasa Inggris, tetapi kata yang dipilih adalah kata-kata yang cukup dimengerti oleh semua orang, antara lain: SMART PHONE, EXCLUSIVE ELEGANCE. Tidak memerlukan keterangan yang panjang lebar seperti Samsung, tetapi HP ini dapat mendominasi merk-merk HP yang lain.

CROSS
Kata-kata yang digunakan untuk menonjolkan kehebatan dan menarik pembeli adalah kata-kata yang sebagian besar berbahasa Inggris. Bahasa Indonesia hanya sedikit digunakan dan itu pun merupakan penerjemahan. Berarti merk ini seperti Black Berry, namun belum setarafnya. Sehingga untuk menembus pasaran di suatu negara perlu sedikit menggunakan bahasa resmi negara tersebut agar lebih jelas dan lebih meyakinkan tentang kualitas dari merk tersebut. Kata-kata itu antara lain: WORLD CLASS QUALITY ACHIEVMENT dan CERTIFICATE of PERFORMANCE.

NOKIA
Kata-kata yang digunakan untuk menonjolkan kehebatan dan menarik pembeli menggunakan kata-kata campuran. Jumlah kata-kata yang berbahasa Inggris sama dengan yang berbahasa Indonesia. Yang berbahasa Inggris, YOUR LIVE IN THE BIGGER SCREEN, dan The New Nokia Lumia 900, Beautifully Different. Kata-kata ini pun cukup menarik perhatian orang. Kata-kata yang berbahasa Indonesia bukan merupakan terjemahan dari kata-kata bahasa Inggrisnya.

SONY
Dengan kata daya tariknya “ Tangkap banyak hadiah dan diskon dari ponsel superhero”. Juga dengan menampilkan 4 model. Merk ini menggunakan bahasa Indonesia hampir secara keseluruhan. Dan ini kemungkinan untuk menjangkau kelas bawah, mengingat harga yang dipasang seharga Rp 500.000

MOTOROLA
Untuk menarik pembeli sebagian besar kata-katanya menggunakan bahasa Indonesia. Harga yang ditawarkan Rp 1,999,000 dan Rp 2,888,000. Harga ini sepertinya ditujukan pada kelas menengah. Yang diharapkan tentu saja bias menjangkau semua kelas, mengingat sekarang ini orang mempunyai hand phone lebih dari satu.

BlackBerry
Tampil lagi dengan sebagian besar menggunakan kata-kata berbahasa Indonesia dengan menunjukkan model dan harga yang beragam: Rp.5,799,000 Rp,2,999,000 Rp,3,399,000 Rp,2,499,000. Hal ini menunjukkan bahwa merk ini juga ingin merebut pembeli yang sebanyak-banyaknya dari Negara Indonesia. Tadinya hanya menggunakan bahasa Inggris namun persaingan dalam periklanan sangat ketat untuk merebut pembeli.

H T C
Semua kata-katanya menggunakan bahasa Inggris. Merk ini bersaing keras dengan Blackberry, namun juga disertai gambar berbagai bentuk dan harganya yang mendapatkan perubahan. Harga-harga itu antara lain: Rp 5.499.000 menjadi Rp 4.999.000 Rp 3.999.000 menjadi Rp3.499.000
Rp 1.999.000 menjadi Rp 1.499.000. Dan ada yang boleh dicicil karena harganya agak mahal, yaitu Rp 6.599.000 dengan cicilan Rp 549.917 x12
Rp 2.999.000 dengan cicilan Rp 249.917 x 12. Inilah cara merk ini mengunggulkan produknya.

Blueberry
Produk baru agar dilirik pembeli menggunakan merk yang mirip dengan Blackberry. Harganyapun murah dan mendapatkan diskon, yaitu: Rp 349.000 menjadi Rp 249.000 Rp 499.000 menjadi Rp 369.000 serta disertai gambar artis terkenal Agnes Monika. Bisnis handphone benar-benar menhadapi persaingan ketat lewat iklan.

2. Interpretasi
Teks iklan seperti iklan HP yang diproduksi oleh masing-masing merk menunjukkan ideologi yaitu mencari keuntungan sebanyak-banyaknya melalui persaingan untuk merebut pasaran. Walaupun terjadi persaingan namun tidak ada kata-kata untuk menjatuhkan merk lain . Mereka menggunakan kata-kata untuk menonjolkan diri sendiri serta kata-kata untuk menarik orang lain agar tertarik untuk membeli produknya.
Dengan membaca kata-kata yang mereka pampangkan, maka harapannya adalah untuk mendapatkan pembeli sebanyak mungkin. Orang yang tadinya tidak tahu, dengan membaca koran yang berisikan iklan HP, menjadi tahu dan berkeinginan untuk membelinya. Sekarang ini, anak kecil pun sudah tahu HP sehingga iklan HP yang ada di koran dapat memicu anak untuk memiliki HP tersebut.

PENUTUP
Berdasarkan analisa di atas maka dapat disimpulkan bahwa iklan HP merupakan wacana persuasif. Iklan tersebut menggunakan bahasa yang padat, lugas dan singkat. Kejelasan dan bahasa yang menarik akan menentukan keberhasilan maksud iklan tersebut.
Ideologi dalam teks iklan HP merupakan bentuk ideologi kapitalisme informasi. Unsur persuasi dalam iklan tersebut jelas kelihatan sehingga bisa menarik semua kalangan bahkan anak-anak kecil pun ikut tertarik (walaupun belum bisa membaca, tetapi melihat gambarnya).
Analisis wacana kritis dapat menjadi mediasi pengungkapan proses interpretasi yang ada dalam teks.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan ((Tim Redaksi, 2002) Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional dan Balai Pustaka

Darma Yoce Allah 2009. Analisis Wacana Kritis. Bandung Yrama Widya
Djajasudarma, Fatimah 1994. Wacana, Bandung PT . Emesco
Fairclough, Norman 1995.Critical Discourse Analysis : the critical study of language. New york Longman Group Limited

Fairclough, N. (1998). Discourse representation in media discource, Sosiolinguistics. Cambridge : Polity Press.

Fairclough, N. (1992) Discource and Social Change, Cambride: Polity Press

Fairclough, Norman 2003. Analysis Discource. New York Routledge

Kasali, Rheinhal 1992. Manajemen Periklanan (Konsep dan Aplikasinya di Indonesia). Jakarta PT. Pustaka Utama Grafiti

Philips, Lourse & Jorgensen, Naranne 2002. Discource Analysis as Theory and Method. London : Sage Publications

Thompson, John B. 2006. Kritik Ideologi : Teori Sosial Kritis tentang Relasi Ideologi dan Komunikasi Massa, Yogyakarta IRCIOD.

Van Dijk, T (1998) Ideology: a Multidisciplinary Approach, London: Sage.

Walter, Elisabeth (Editorial Team) 2008. Cambridge Advance Leaner’s Dictionary. Cambridge : Cambridge University Press

Fairclough, Norman 2003. Analysis Discource. New York Routledge

Kasali, Rheinhal 1992. Manajemen Periklanan (Konsep dan Aplikasinya di Indonesia). Jakarta PT. Pustaka Utama Grafiti

Philips, Lourse & Jorgensen, Naranne 2002. Discource Analysis as Theory and Method. London : Sage Publications

Thompson, John B. 2006. Kritik Ideologi : Teori Sosial Kritis tentang Relasi Ideologi dan Komunikasi Massa, Yogyakarta IRCIOD.

Van Dijk, T (1998) Ideology: a Multidisciplinary Approach, London: Sage.

Walter, Elisabeth (Editorial Team) 2008. Cambridge Advance Leaner’s Dictionary. Cambridge : Cambridge University Press